Morbid Nixcotine Rokok Pemberontak!

November 18th, 2008 by drinkim-beam

Morbid Nixcotine, Rokok Bandung!

Ingat awal pemberotakan kita dulu mendobrak nilai-nilai dan membangun identitas diri kita sendiri lepas dari segala nla yang ada? Yup! Rokok! Kita sembunyi-sembunyi di kantin atau di WC sekolah, dikejar-kejar guru, dihukum, tapi tetap saja kita tak jera. Merokok dan merokok. That’s rebel!

Oleh Kimun666

Rokok adalah awal pemberontakan kaum muda untuk berjuang mencapai ‘satu status’ di mata orang-orang dewasa. Mungkin ini pemberontakan semu, karena faktanya ketika kita akhirnya dibebaskan oleh orang dewasa untuk merokok, kenikmatan merokoknya bagaikan hilang. Namun, apa itu ‘semu’ jika yang ‘nyata’ saja kadang kita bingung kita tentukan batasannya. Tell ya dizz, semua akan tetap saja semu jika kita tak memutuskan untuk total memberontak bersama apa yang sudah kita nisbikan sebagai way to rebel, masuk ke dalamnya, dan mewujudkannya menjadi sesuatu yang nyata secara moril, dan jelas secara materil.

Jadi sejauh apa pemberontakanmu sekarang? Inilah pertanyaan laten—sekaligus pernyataan—anak-anak Ujungberung ketika menggagas pengelolaan rokok pemberontak ini : Morbid Nixcotine, rokok yang membebaskan seseorang untuk menjadi diri mereka sendiri. Rokok sebagai insting purba kaum muda untuk memberontak pertama kali secara nyata, rokok yang bebas dan membebaskan. Dan, Morbid Nixcotine membebaskan para Agressor—kru pengeola Morbid Nixcotine—nya untuk menjadi diri sendiri, berpakaian seperti bagaimana mereka adanya, berucap seperti apa yang mereka pikirkan, attitude mereka seadanya, memberontak kepada patron-patron yang telah mapan, pada kelanjutannya membebaskan komunitas-komunitas untuk lebih bebas berkespresi.

Adalah / baan doong/ sindekeit/ sebuah kelompok kerja yang terdiri dari orang-orang yang berkomitmen mendukung dan ikut aktif dalam dinamika ekonomi kreatif Bandung—yang menggagas rokok ini. Sejak awal berdiri November 2008, / baan doong/ sindekeit/ berkomitmen mendukung kegiatan-kegiatan kreativitas yang ada di Kota Bandung dan sekitarnya, dari minat, bakat, hobi, hingga profesi. Langkah awal kiprah Morbid Nixcotine adalah dukungannya terhadap upaya riset dan dokumentasi aktivitas komunitas-komunitas kreatif di Bandung.

Yang paling update tentu saja dukungannya kepada launching album Ressurection of Murdernya band death metal Ujungberung Rebels, Bleeding Corpse. Lalu kemudian menanti di jalanan sana, berbagai acara yang digagas berbagai komunitas di Bandung yang siap bersinergi dengan Morbid Nixcotine. Beberapa film dokumentasi yang digarap / baan doong/ sindekeit/ dan Morbid Nixcotine adalah sayap termuda Ujungberung Rebels, bandung Death metal Syndicate yang diwakili oleh Bleeding Corpse sekaligus film pendamping acara launching Ressurection of Murder, film Cicaheum Hellpark, dan film-film art of rebellion Morbid Nixcotine mengenai peringatan bahaya merokok—tentunya khas Morbid Nixcotine yang ekstrim : Deal to Death! Kini / baan doong/ sindekeit/ sedang menggarap pembuatan film dokumenter menganai komunitas sepeda BMX Flatland, scene musik Garut, dan tentu saja scene kreatif di Bandung.

So, whaccha waitin’ for? Smoke dizz cigarette, the Bandung Cigarette, Morbid Nixcotine, Rokok Para Pemberontak!!! Hellyeah!

SCUM ON FEEL THE NOISE : INSANE WE’LL MEET AGAIN

October 26th, 2008 by drinkim-beam

Tulisan ini saya tulis tahun 1998 bersama Ivan Scumbag alm. di Kaum Kidul, di kamar Ivan, di bawah pengaruh Vodka, Leksotan, dan ganja. ini adalah tulisan meracau. sampai sekarang saya tak tau ini menceritakan apa, tapi yg jelas ini menceritakan kebanggaan kami akan Burgerkill. ini juga refleksi lain dari lagu “Blank Proudness”. saya sangat yakin, beberapa kalimat yang tercantum di artikel ini asalnya akan saya masukkan sebagai lirik lagu “Blank Proudness”.

saya memberi judul tulisan ini “Insane We’ll Meet Again”, terinspirasi dari penggalan lirik lagu “Crystal Ship”nya The Doors, sementara Ivan memberi judul tulisan ini “Scum On Feel the Noise!”. saya akhirnya memuat dua judul itu.

so, inilah, tulisan kami berdua…

SCUM ON FEEL THE NOISE : INSANE WE’LL MEET AGAIN

We preach riot, hatred, self-loathing, bloody revolution and complete contemp for compromise. We have more energy and anger and intelligence than anyone in this whole cursed world, refusing to get on the anarcho/squat/shit treadmill. We wanna be the biggest rock nightmare ever and we wanna take all the nation with us. We’ll do whatever is required and give you the biggest ever post humous record sales We’ve spray painted our school shirt to wipe out the brainwash and the boredom. We are he scums that remind people of misery. When we jumped on the stage, it’s not a rock or hardcore cliché, but the geometery of contempt. We’ve seen so much energy at raves but also too much love. It’s so nice to see young people enjoying themselves and keeping out of trouble. We don’t display our wounds, we shove them in people’s faces. We are young beautiful scum pissed off with the world. All we’ve ever wanted is the reality of oblivion to get the jackplugged to hell. There is more self-hate in this band than you can realize. And if you keep on following our footsteps, then you’ll find that we hate ourselves totally.

Everybody in the nation is turned on by the happy-Monday-shit-music because of the lifestyle. But, we have the songs and ideas to back it up—because we are the most original lifestyle and band on the world. By denying ourselves a past, we are trying to find a worthwhile present out of this junky wreckage of life. We are the guitar edge of 90’s youth enfranchisement but for us, life is still repetition, humiliation, boredom. You can’t dance if you allow reality to eat in your thoughts. Just the same as you can’t stage dive. We kick them away. So you better listen to this shit or you fuck off. Wipe out the aristocracy, now kill! Government and country dump the scum falg and we drowning in manufactured ego fuckers. Boredom bred the thoughts of throwing bricks and we’ve been down for so damn long. We feel like rest of this country by banging our head against the wall.

We are the the suicide of non-generation. We are as faraway from anything in time as possible. We ruined everything—when fresh faced the little boys in gaudy t-shirt’s made exciting rocks and hardcore which they were convinced would shame the world into improvement. Retrogressive, exciting and inspired. You’ll probably hate us. We’re not in the personal entertainment. We aren’t wallowing in any music paper’s freaks. We might sound like the last 30 years of rock or sound like year 2100 of rock, our mind and soul addresses the issues of universal mind.

It’s a search. A frantic search for the absolutely nothing. An opening of one door after another. As yet there’s no consistent phyilosophy or politics. Sensousness and evil is an attractive image now. The snakeskin that will be shed sometimes. Works, performs of a striving for metamorphosis. Dark life, the dark side of life, the evil things,the darkside of the moon brokenthru to some cleaner, freer realm.

It’s a purification ritual in the alchemical sense. First you have to have the period of disorder, chaos, refusing to a primeval disaster region. Out of that, you purify the elements and find a new seed of life which transform all life, all matter, and all personality until finally you emerge and marry all those dualism and opposites. Then you’re not talking about evil and good anymore but something unified and pure. Our music and personalities as seen on the performs are still in the state of chaos and disorder with maybe an incipient element of purity kind of starting. Lately, when we’ve appeared in person, it’s started to merge together. The city is looking for a ritual to join its fragment. This is just like a sort of the electric wedding ritual. And we are too. Insane we’ll meet again.//kims&scumbag, ujungberung, circa 1998

SCENE BAWAHTANAH INDONESIA 1980an – 2000an

September 20th, 2008 by drinkim-beam


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} a:link, span.MsoHyperlink {mso-style-unhide:no; color:blue; text-decoration:underline; text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed {mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; color:purple; mso-themecolor:followedhyperlink; text-decoration:underline; text-underline:single;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 {size:595.35pt 842.0pt; margin:1.0in 89.85pt 1.0in 89.85pt; mso-header-margin:35.45pt; mso-footer-margin:35.45pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

SCENE BAWAHTANAH INDONESIA 1980an – 2000an

By Kimung

Teman-teman, kita sudah sampai di era baru industri musik…

Wenk Rawk, 2007

Inilah propaganda informasi paling diminati mengenai wajah indsutri musik baru Indonesia. Essay yang ditulis scenester pionir Wenk Rawk ini menggambarkan dengan gamblang bagaimana kini label rekaman meluaskan ekspansi bisnis mereka dalam industri musik tanah air, yaitu dengan membuka divisi manajemen artis di label rekaman. Ini adalah sebuah jalan pintas yang dilakukan perusahaan rekaman untuk mengeksploitasi artis-artisnya, ketika bisnis utama mereka semakin terpuruk akibat maraknya pembajakan di tanah air. Jelas fenomena manajemen artis di sebuah label bukan suatu yang sehat karena label label rekaman jelas tidak kompeten untuk urusan manajemen artis, berpotensi merusak tatanan industri musik yang selama ini otonom dari tiga belah pihak terkait—artis, manajemen, label, dan rentannya konflik kepentingan tingkat tinggi, saat manajernya bingung harus membela kepentingan siapa bila terjadi bentrok antara artis dan label.

Memang sistem manajemen artis dalam sebuah label rekaman bukanlah fenomena umum dan hanya beberapa gelintir perusahaan rekaman yang telah menerapkan hal ini. Namun itu sudah menjadi tak penting, karena yang terpenting adalah mengapa kondisi seperti ini bisa terjadi.

Rawk menganalisis, penyebab kondisi tak sehat ini terjadi akibat semakin parahnya praktek pembajakan di Indonesia dan juga peran pemerintah yang berkesan main-main saja dalam mengatasi hal ini. Musisi-musisi independen jelas gerah dengan kondisi ini. Dengan kreatif, mereka lalu melawan sistem pembajakan dengan cara yang sama : pembajakan pula, namun kini yang membajak adalah musisi kreator karya mereka sendiri. Dan kemudian meledaklah fenomena yang mengguncang industri musik tanah air itu—penggratisan album oleh para musisi atau band.

Koil, menjadi band pionir fenomena ini. Mereka bekerja sama dengan sebuah perusahaan minuman dalam merilis album mereka dan juga menjalin kerjasama dengan majalah Rolling Stone untuk mendistribusikan album terbaru mereka, Blacklight Shines On secara gratis. Tak hanya itu, mereka juga memberi akses download album gratis via website/mailing list musik. Ide Koil ini memang tergolong baru walau sebenarnya tidak original juga. Prince bulan Juni lalu lebih dulu mengedarkan 3 juta keping album terbarunya secara gratis via Tabloid Sun di Inggris.

Dan demikianlah, maka Otong dkk, tanggal 21 September 2007, tampil di sebuah studio di bilangan Cililitan, Jakarta Timur, untuk memperkenalkan album Blacklight Shine On, sekaligus juga pembuatan video klip “Semoga Kau Sembuh Part II” yang disutradarai Rizal Mantovani dan juga merupakan soundtrack film Kuntilanak 2. ini adalah sebuah tonggak baru yang ditancapkan Koil setelah rilisnya album Megaloblast enam tahun lalu, album yang berhasil menembus angka fantastis. Album Megaloblast re-mix tahun 2003 berhasil menembus angka penjualan hingga 30.000 keping.

Blacklight Shine On dalam hal ini tak berpretensi memecahkan rekor Megaloblast. Album ini sangat penting karena menggunakan sistem baru dalam pendistribusiannya : penggratisan album. Otong memaparkan bahwa Blacklight Shine On, “…menyasar penikmat musik Indonesia dari lapisan menengah ke bawah. Kami menyajikan musik bagus dengan kualitas suara yang bagus pula, tapi dapat dibeli dengan harga murah.” papar Otong, menjelang syuting video klip yang disutradarai Rizal Mantovani.

Blacklight hine On, secara musikalitas memang snagat spektakuler. Namun yang tak kalah hebat adalah pengemasan lirik-lirik khas yang ditulis Otong. Beberapa lagunya, “Kenyataan dalam Dunia Fantasi”, “Semoga Kau Sembuh”, “Ajaran Moral Sesaat”, “Aku Lupa Aku Luka”, dan “Hanya Tinggal Kita Berdua” banyak menyoroti ketimpangan sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Otong yang menulis semua syair memberikan komitmen, “Kita butuh sesuatu untuk bangsa ini. Dari sinisme yang saya kemukakan di beberapa lagu awal, akhirnya toh saya tetap akan membela negara ini, apapun akibatnya.” Selain menggratiskan CD mereka, Koil juga membagikan album paling ditunggu pecinta musik bawahtanah ini dalam format MP3. untuk mempromosikan album mereka, Koil juga menggelar serangkaian tur mulai November di Jakarta, Bandung, Yogyakata, Surabaya, dan Denpasar.

***

Namun, itu adalah kini. Jauh sebelumya, Koil yang didirikan tahun 1993 oleh Otong, Doni, Imo, dan Leon dirintis dari awal di titik nol. Band yang sejak awal berdiri memutuskan memainkan lagu-lagu ciptaan sendiri itu, merekam 8 lagu mereka dan merilisnya dalam single berjudul Demo From Nowhere dalam format kaset yang dijual terbatas, hanya di Studio Reverse.

Musik Koil adalah musik rock yang dipenuhi sampling suara yang tidak hanya berasal dari instrumen musik tapi juga dari suara-suara yang ada di sekitar kita seperti suara air, besi dipukul, suara-suara binatang, suara orang pidato, dan lain-lain. Dari segi lirik, penulisan lirik-lirik yang mengekspresian rasa marah, kegelapan dan cinta, dituangkan dalam bait-bait lirik berbahasa Indonesia yang tertata apik. Ini adalah suatu nilai plus karena lirik bahasa Indonesia masih jarang dipakai untuk jenis musik rock seperti Koil. Hal inilah yang menarik perhatian Budi Soesatio dari label Project Q untuk merilis album-album Koil. Maka September 1996, KOIL merilis full album pertama yang berjudul Koil. Lagu-lagunya sebagian diambil dari singel Demo From Nowhere. Album ini mendapat tanggapan positif dari khalayak musik Indonesia terutama pencinta musik rock, karena musik dan liriknya dianggap tonggak baru dalam kancah musik rock Indonesia.

Tahu 1998 Koil keluar dari Project Q dan merilis singel Kesepian ini Abadi di bawah label Apocalypse Record, label yang dibuat oleh Otong (Koil) dan Adam (Kubik). Kaset ini diedarkan melalui jaringan distro-distro bawahtanah yang saat itu sudah mulai banyak bermunculan di kota-kota besar. Seiring dengan itu, Koil mencoba konsep baru dalam pertunjukannya, yaitu dengan memasukan unsur-unsur lain dalam pertunjukannya yaitu fashion dan tarian. Kostum dari kulit, berwarna hitam, penuh asesoris logam, boots tinggi, ditambah dengan aksi para penari wanita berpakaian seksi membuat pertunjukan musik Koil menarik dan berbeda dengan yang lain. Koil sempat bereksperimen meremix lagu-lagu Puppen, Burgerkill, dan Jasad, serta ikut dalam berbagai kompilasi sebelum akhirnya merilis Megaloblast, bulan Februari 2001 di bawah label Apocalypse Record. Saat pertama dirilis, distribusi kaset ini dilakukan hanya lewat jaringan distro-distro bawahtanah di Jakarta dan Bandung, pemesanan melalui pos, dan beberapa toko kaset.

Cara ini ditempuh oleh Koil untuk menekan biaya distribusi. Sementara untuk promo, Koil membuat poster-poster dan baligo yang di pasang di jalan-jalan utama—untuk promosi ini, Koil dibantu banyak pihak seperti distro-distro, radio, majalah, restoran—serta memaksimalkan penggunaan internet. Koil juga membuat video klip lagu “Mendekati Surga” dan mengirimkannya ke MTV. Tak disangka ternyata sambutan dari khalayak sangatlah antusias. MTV—kala itu belum menayangkan klip band indie—menyebutkan respon terhadap klip Koil bahkan lebih besar daripada klip Linkin Park. Hal itu membuat pihak MTV mengundang Koil untuk tampil dalam acara MTV Musik Award 2003.

Megaloblast kemudian dirilis ulang oleh Alfa Records bulan Desember 2003 dengan penambahan dua lagu remix dan pendistribusian luas mencakup seluruh Indonesia. Terjadi juga perubahan artwork kover menjadi berwarna hitam gelap. Karenanya, album ini sering disebut juga sebagai album Megaloblack. Untuk promo, Koil menambah dua klipnya, yaitu untuk lagu “Kita Dapat Diselamatkan” dan “Dosa Ini Tak Akan Berhenti.” Prestasi Koil ini mendapat perhatian dari majalah Times Asia, sehingga dalam salah satu tulisannya menyebut Koil sebagai salah satu band rock masa depan Indonesia.

Juni 2005, Koil merilis 2 buah singel terbarunya yang berjudul “Hiburan Ringan Part 1” dan “Hiburan Ringan Part II.” Singel ini masuk dalam soundtrack film horor berjudul 12:00 AM. Masih di bulan yang sama, Koil membuat klip dari lagu “Hiburan Ringan Part II” dan akhirnya September 2007 Koil merilis semua lagu-lagunya dalam album fenomenal Blacklight Shine On.

Scene Bandung

Studio Reverse, tempat di mana Koil pertama kali menitipkan demo mereka untuk dijual, dapat dikatakan sebagai salah satu tonggak kebangkitan scene musik bawahtanah Bandung. Studio ini berdiri tahun 1994, oleh Richard Mutter—saat itu drummer PAS—Dxxxt, dan Helvi Syarifuddin. Ketika semakin berkembang, Reverse kemudian melebarkan sayap bisnisnya dengan membuka distro yang menjual CD, kaset, poster, t-shirt, serta berbagai aksesoris impor lainnya. Richard membangun label independen 40.1.24, rilisan pertamanya adalah kompilasi CD “Masaindahbangetsekalipisan” tahun 1997, berisi band-band indie masa itu, antara lain Burgerkill, Puppen, Papi, Rotten To The Core, Full of Hate dan Waiting Room, sebagai satu- satunya band asal Jakarta. Dapat dikatakan, masa-masa inilah tonggal awal populerisasi wacana Do It Youself (DIY), yaitu sebuah bentuk pemikiran yang mementingkan inisiatif individu dalam membangun gerakan budaya tandingan.

Melalui wacana DIY pula Richard dan bandnya PAS pada tahun 1993, PAS menorehkan sejarah sebagai band Indonesia yang pertama kali merilis album secara independen. Mini album mereka Four Through The S.A.P sebanyak 5000 kaset ludes terjual dalam waktu singkat. Kesuksesan PAS tak lepas dari peran ‘mastermind’ yang melahirkan ide merilis album PAS secara independen tersebut. Ia adalah (alm) Samuel Marudut, Music Director Radio GMR, stasiun radio di Bandung yang khusus memutar musik rock/metal. Radio ini juga memiliki program khusus memutarkan demo-demo rekaman band-band rock amatir asal Bandung, Jakarta dan sekitarnya. Band yang juga kemudian memanifestasikan wacana DIY sejak awal kemunciulan merka dan konsisten adalah Puppen, Pure Saturday, dan Kubik.

Beberapa tahun sebelum berdirinya Puppen, terdapat komunitas lain yang berkumpul di lantai 3 pusat pertokoan Bandung Indah Plaza. Komunitas ini menamakan diri Bandung Death Metal Area, atau Badebah, kebanyakan adalah para pecinta musik thrash, death metal, dam grindcore. Pionir komunitas ini adalah Uwo, vokalis band Funeral, band yang berdiri Sukaasih, Ujungberung. Badebah berkembang pesat. Yang ikut nongkrong kemudian bukan cuma anak-anak metal, tapi juga berbaur dengan punks, hardcore, dan lain-lain. Marchell, penabuh drum Puppen di dua album awal mereka adalah salah satu anggota Badebah yang termuda. Selain Funeral, band yang juga tergabung dalam komunitas ini adalah Necromancy dan Jasad. Sementara itu di Kota Bandung secara umum, band yang seangkatan dengan Funeral adalah Rebels Youth, Succubuss, Insanity, dan Mortir. Badebah juga sempat menjadi program siaran radio Salam Rama Dwihasta di Sukaasih, Ujungberung antara tahun 1992 hingga 1993. Program ini bahkan memiliki rating yang tinggi. Dalam seminggu para penyiar kita—Agung, Dinan, Uwo, Iput—bisa mendapatkan surat dan kartu pos lebih dari dua ratus hingga tiga ratus pucuk.

Di sudut lain, anak-anak Ujungberung yang lebih muda, mulai membentuk komuitas sendiri-sendiri atau bergabung dengan komunitas-komunitas metal yang baru lahir saat itu. Mereka nongkrong di Jogja Kepatihan, Kings, dan Palaguna. Semakin intens bertemu, mereka kemudian sepakat membentuk organisasi pecinta metal ekstrim. Organisasi tersebut kemudian berdiri dengan nama Bandung Lunatic Underground (BLU) tahun 1993. Sosok di baliknya antara lain adalah scenester Ipunk, Romy, Gatot, Yayat, dan Dani.

Di Ujungberungnya sendiri, komunitas kemudian berkembang. Sebelunya di sana sudah ada band Orthodox yang didirikan Yayat (Revolt! Records), Dani (Jasad), AyiOto (Sacrilegious), dan Agus (Sacrilegious) tahun 1988. Band-band kemudian tumbuh semakin subur di Ujungberung ketika Studio Palapa berdiri. Band-band Ujungberung pula yang kemudian rajin merilis album mereka secara independen. Dari sepuluh rilisan scene indie Indonesia tahun 1995 yang berhasil didokumentasikan Majalah Hai, tiga rilisan di antaranya berasal dari Ujungberung, mereka adalah Sacrilegious degan album Lucifer’s Name Be Pray, Sonic Torment album Haatzaai Artikelen, dan Jasad dengan album C’st La Vie. Pergerakan scene Ujungberungan semakin solid ketika mereka membentuk organisasi jaringan kerja sama komunitas metal Indonesia, Exteme Noise Grinding (ENG). Program ENG adalah melakukan propaganda pergelaran musik Ujungberung yang kemudia kita kenal dengan Bandung Berisik, dan membuat zine. Revograms edisi pertama, Maret 1995 buatan ENG disebut-sebut sebagai zine pertama di scene musik bawahtanah Indonesia.

Ujungberung segera menjadi episentrum musik metal bawahtanah Bandung, bahkan Indonesia. Dinamika perkembangan mereka didukung penuh oleh studio latihan da rekaman, Palapa Studio yang dirintis oleh kang Memet Sjaf. Bersama Yayat, Kang Memet pula yang kemudian membangun karakter sound awal Ujungberungan yang khas dan powerfull. Dari studio ini juga lahir band-band yang kini menjadi ikon scene musik metal bawahtanah yang lahir setelah era Orthodox-Funeral-Necromancy-Jasad. Mereka adalah Three Side of Death, Analvomit, Disinherit, Sacrilegious, Sonic Torment, Morbus Corpse, Forgotten, Burgerkill, Naked Truth, Embalmed, Beside, dan sebagainya.

ENG kemudian melebur menjadi lebih cair. Program kegiatan perahan beralih secara alami sesuai dengan kebutuhan saat itu : kru pendukung band-band yang manggung. Maka dimulailah tradisi pembinaan kru di Ujungberung. Mereka kemudian disebut sebagai Homeless Crew, nama yang dibuat oleh Ivan Scumbag, Kimung, dan Addy Gembel sebagai manifestasi dari menolak gaya hidup mapan. Gaya hidup jalanan kemudan mewarai keseharian dan pada giliranya, pola pikir Homeless Crew. Sementara itu, semakin intensnya anak-anak Homeless Crew belajar sound dan alat-alat, memuat mereka semakin bergairah unutk membentuk band. Hingga tahun 1997 setidakya ada enam belas band di Homeless Crew. Mereka sepakat untuk mengumpulkan karya mereka dalam satu komplasi yang mereka namakan Ujungberung Rebels. Tahun 1998 kompilasi itu dirilis oleh Independen Records dengan judul Independen Rebels. Kompilasi ini mendapat sorotan yang baik dari berbagai kalangan. Anak-anak Homeless Crew pun pelan-pelan punya sebutan baru untuk komunitasnya : Ujungberung Rebels.

Pada masa ini, di daerah perkotaan pertumbuhan scene musik indie juga semakin pesat. Berbagai genre lahir dan berkembang, berbagai pertunjukan musik bawahtanah silih berganti digelar di gedung pergeraran musik bawahtanah saat itu, Gor Saparua. Tak tanggung-tanggung hampir setiap minggu sejak Hullaballo I—event musik bawahtanah pertama di Kota Bandung tahun 1994—pertunjukan musik bawahtanah digelar. Namanya macam-macam, Bandung Underground, Gorong-Gorong Bandung, Campur Aduk, Bandung Berisik, Boomer, Master of Underground, dan lain-lain. Pergelaran ini stereotip : menampilkan band-band lokal Bandung, kadang juga mengundang band-band luar Bandung, yang memainkan jenis musik berbeda-beda. Dari panggung inilah besar band-band ikonik semacam Puppen, Jasad, Burgerkill, Forgotten, Sacrilegious, Full of Hate, Pure Saturday, Closeminded, Koil, Motordeath, Noise Damage, Hellgods, Homicide, Nicfit, Rutah, The Clown, Turtles Jr., Noin Bullet, Agent Skins, Jeruji, Helm Proyek, Cherry Bombshell, Sieve, dan lain-lain.

Perlahan setiap komunitas kemudian membangun sebuah jejaring yang mewarnai seluruh aspek kehidupan orang-orang yang hidup di dalamnya. Wujud dari jaringan ini adalah maraknya ompilasi yang dirilis label dalam indie dalam negeri maupun luar negeri yang menyertakan band-band lokal. Tidak berhenti di situ, tahun 1999, FastForward Records merilis beberapa album band luar negeri seperti The Chinkees (Amerika), Cherry Orchard (Perancis), dan 800 Cheries (Jepang). Pada kelanjutannya, malah band-band local Bandung yang kemudian banyak dirilis label asing. Beberapa di antaranya adalah Forgotten, Jasad, Homicide, Domestik Doktrin, dan yang paling aktual adalah Bugerkill.

Perkembangan band yang menggembirakan ini juga ditambah dengan mulai maraknya pembuatan merchandise yang pada gilirannya mendorong pertumbuhan industri kloting di Kota Bandung. Bisnis distro kecil-kecilan yang telah dirintis Reverse menelurkan banyak embrio lain. Maka kemudian lahirlah klotingan dan distro seperti Rebellion Shop, 347 Boardrider & Co., No Label Stuff, Airplane Apparel System, Ouval Research, Riotic, Anonim, Harder, Monik, dan sebagainya. Kemunculan toko-toko semacam ini kemudian tidak hanya menandai perkembangan scene anak muda di Kota Bandung, tetapi juga kota-kota lain semisal Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan sebagainya.

Selain musik, olah raga ekstrim, dan fashion, literasi juga berkembang pesat di Kota Bandung. Sejak kemunculan Revograms tahun 1995, puluhan zine—media berbagi informasi dan berkomunikasi antar komunitas berupa selembaran atau majalah kecil format fotokopian—lahir bagai jamur di musim hujan. Dapat dikatakan, era zine bisa disebut sebagai kebangkitan kedua literasi Bandung setelah era Majalah Aktuil tahun 1970an yang dibangun oleh Sonny Suriaatmadja, Denny Sabri Gandanegara, dan Remy Sylado. Zine-zine ini diedarkan di distro-distro. Ada yang gratisan, ada juga yang dijual. Isinya memuat berbagai kabar dan isu mengenai dinamika komunitas yangbersangkutan dengan zine dan scene indie Bandung, Indonesia, dan internasional secara umum.

Tak lama setelah kemunculan Revograms, kemudian lahirlah fanzine indie seperti Swirl, Tigabelas, Membakar Batas dan yang lainnya ikut meramaikan media indie Bandung. Ripple dan Trolley muncul sebagai majalah yang membahas kecenderungan subkultur Bandung dan jug lifestylenya. Trolley akhirnya kolaps tahun 2002, sementara Ripple berubah dari pocket magazine ke format majalah standar. Sementara fanzine yang umumnya fotokopian hingga kini masih terus eksis.

Pada masa pertengahan1990an hingga tahun 2000an, ketika industri fashion masih dalam taraf perkembangan, distro-distro masih menyediakan ruang bagi scenester untuk saling bertemu, berdiskusi, dan saling berbagi informasi. Distro menjadi semacam ruang sosial tempat bertemu komunitas dan tempat peredaran zine. Ini terlihat dari isi zine yang hampir semuanya memuat kabar-kabar berkaitan dengan dinamika komunitas. Ketika orientasi distro tahun 2000an semakin meleceng dari pendukungan dinamika komunitas menuju ‘dagang murni’, ruang-ruang diskusi semakin terbatas. Zine pun bermutasi bentuknya, bukan lagi media propaganda pengembangan komunitas, tempat berbagi informasi, dan saling berkomunikasi, tetapi hanya berperan sebagai katalog dagang semata.

Namun demikian, hal itu tak mengganggu teakd pengembangan literasi di scene bawahtanah Bandung. Puncaknya adalah tahun 2000an dengan berdirinya toko-toko buku yang diawali dengan berdirinya Tobucil, Ultimus, Rumah Buku, dan Omuniuum. Tempat-tempat diskusi dan ruang peredaran zine yang dulu menggunakan ruang-ruang distro, kini beralih ke toko buku. Selain toko buku, yang kemudian berkembang adalah penerbitan independen yang tumbuh dari kultur komunitas musik. Minor Books adalah salah satu penerbitan yang berkomitmen mengangkat karya-karya dan sejarah komunitas. Buku terbitannya, Myself : Scumbag Beyond Life and Death karya Kimung tahun 2007 dapat disebutkan sebagai karya pertama yang mendokumentasikan scene musik bawahtanah secara komprehensif dalam kurun waktu dua puluh tahun terakhir. Yang patut dicermati adalah bahwa buku ini merupakan buku pertama dari rangkaian buku trilogi sejarah scene bawahtanah Bandung yang akan digarap Minor Books. Buku kedua rencananya berjudul Panceg Dina Galur, Ujungberung Rebels, dan buku ketiga rencananya Bawahtanah Bandung 1980-2010.

Sementara itu, perkembangan fashion di Kota Bandung ternyata tak tumbuh hanya di kloting saja. Berbagai macam bentuk perayaan di ruang-ruang publik menyumbangkan hal yang besar bagi dinamika pertumbuhan fashion. Dari mulai acara-acara semacam konser musik, Pasar Seni ITB, Dago Festival sampai pada kegiatan demontrasi politik dan balapan motor yang sering muncul dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir di jalan-jalan utama kota Bandung memfasilitasi orang-orang Bandung untuk keluar rumah dan mempertontonkan dirinya. Hal inilah yang agaknya kemudian membawa berkah istimewa bagi perkembangan musik, juga termasuk perkembangan street fashion di Bandung, yang kemudian sedikit banyak juga ikut mendorong pertumbuhan distro-distro yang ada untuk terus berkembang biak. Selain itu, warga Kota Bandung juga mendapatkan sarana fashion daur ulang di wilayah Tegalega yang konon dihuni sekitar 3000 lapak penjaja pakaian bekas pakai yang kebanyakan diimpor dari luar negeri. Berbeda dengan distro, bisnis impor pakaian bekas yang sejak tahun ‘95-an berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain semisal daerah Cibadak, Kebun Kelapa, sampai akhirnya di daerah Tegalega ini terlihat jauh lebih sederhana. Walaupun sekarang aktifitas di Tegalega sudah dipindahkan ke tempat yang lain (daerah Gedebage, Ujungberung), tempat ini tetap memiliki pengaruh yang khusus bagi perkembangan fashion di kota Bandung.

Sementara itu, sebuah fenomena baru merebak di awal tahun 2000an ketika Gor Saparua akhirnya dilarang digunakan untuk konser-konser musik. Setelah itu, pertunjukan musik bawahtanah juga semakin jarang diadakan karena semakin dipersulitnya masalah perizinan dan kendala dalam soal dana. Dapat dikatakan ini adalah sebuah fase yang paling memprihatinkan dalam perkembangan scene musik indie Bandung di mana kota yang dinasbihkan sebagai barometer musik Indonesia ini ternyata sama sekali tak mempunyai sarana yang memadai sebagai gedung konser, juga tak memiliki regulasi yang baik yang dapat mengembangkan potensi seni warga masyarakatnya. Pergelaran yang kemudian marak adalah pergelaran setingkat pensi-pensi yang umumnya menyasar musik-musik yang lagi tren. Pertengahan tahun 2000 rock n’ roll modern dan emocore semakin merajai panggung-panggung musik Bandung.

Namun demikian, militansi kaum bawahtanah bagaikan tak ada habisnya. Tak bisa manggung di kelas Saparua, scene ini muali bergerak perkomunitas. Mereka menggelar pertunjukan-pertunjukan kecil, di tempat-tempat yang lebih kecil, dengan audiens yang lebih sedikit, eksklusif, dari mereka-oleh mereka-untuk mereka. Bebrapa tempat yang sering digunakan adalah TRL Bar di Braga, diskotik Nasa di Jalan Asia Afrika, dan Gedung AACC di Braga. Pertunjukan-pertunjukan juga kadang digelar di ruang-ruang inisiatif semacam Commonroom, selain juga curi-curi di ruang publik manapun yang mau bekerja sama dengan komunitas. Anak punk misalnya, biasa menggelar gigs di Villa Putih, Lembang. Atau anak-anak Ujungberung Rebels dengan faksi baru mereka Bandung Death Metal Syndicate yang menggelar Bandung Deathfest berkolaborasi dengan kelompok kaum adat Sunda. Ujungberung Rebels sendiri adalah satu-satunya komunitas bawahtanah yang mendapatkan pengakuan sebagai kampong adapt oleh kelompok adat Sunda. Mereka diberi nama “Kelompok Kampung Sunda Underground.”

Untunglah, kondisi yang tidak kondusif ini diimbangi dengan berkembangnya teknologi media dan informasi. Salah satu contohnya adalah perkembangan teknologi rekaman yang memungkinkan band-band merekam musik mereka dengan menggunakan komputer, sehingga tidak lagi harus bersandar pada industri mainstream dan produk impor. Saat ini, industri musik di Bandung sudah biasa diproduksi di studio-studio kecil, rumah, maupun di kamar kost. Selain itu, perkembangan di bidang teknologi informasi juga memudahkan setiap komunitas yang ada untuk berhubungan dan mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Melalui jaringan internet yang sudah berkembang sejak tahun 1995-an, Kota Bandung saat ini sudah menjadi bagian dari jaringan virtual yang semakin membukakan pintu menuju jaringan global.

Kehadiran MTV pun setidaknya memiliki peran yang tidak sedikit, karena melalui stasiun inilah beberapa band underground Bandung mendapat kesempatan untuk didengar oleh publik secara lebih luas. Selain itu, para presenter MTV siaran nasional pun tidak segan-segan untuk memakai produk-produk dari kloting lokal yang berasal dari Kota Bandung, sehingga produk mereka menjadi semakin populer. Dampaknya tentu saja tidak kecil. Selama beberapa tahun terakhir warga Kota Bandung mungkin sudah mulai terbiasa dengan jalan-jalan yang macet pada setiap akhir minggu. Selain menyerbu factory outlet, para pengunjung yang datang ke Kota Bandung pun biasanya ikut berbondong-bondong mendatangi distro-distro yang ada, sehingga memicu pola pertumbuhan yang penting, terutama dari segi ekonomi.

Pertumbuhan ini ternyaa tidak berbanding lurus dengan penyediaan sarana-sarana yang dapat menunjang kreativitas anak muda Bandung untuk terus berkarya. Tidak adanya gedung konser lambat laun terasa menjadi kendala yang menghambat perkembangan dinamika musik di Kota Bandung. Hal ini kemudian mencuat ketika tanggal 9 Februari 2008, sebelas orang penonton meninggal di pergelaran launching album band Beside di Gedung AACC. Selama konser, semua berjalan dengan sangat tertib hingga akhirnya dua puluh menit setelah konser berakhir dan para penonton yang berebut untuk keluar bentrok dengan para penonton yang berebut ingin masuk ke dalam arena pertunjukan tanpa tahu kalau gig telah berakhir. Akhirnya, sebelas orang mati lemas dan terinjak-injak dalam tragedi tersebut.

Tragedi ini pada kelanjutannya membukakan mata banyak pihak bahwa betapa kita sudah terlalu asyik sendiri tanpa menyadari jika komunitas ini semakin berkembang dan perlu untuk dibina. Betapa komunitas ini semakin besar dan karenanya diperlukan sebuah ruang yang lebih besar untuk menunjang perkembangan mereka. Tragedi ini juga kemudian dijadikan sebagai ajang konsolidasi antar komunitas kreatif di Kota Bandung untuk maju bersama dalam sebuah pergerakan ekonomi, sosial, budaya, dan politik yang inklusif, integratif, aplikatif, dan strategis. Dua di antara banyak sekali simpul yang terbentuk secara alami dalam proses ini adalah Solidaritas Independen Bandung (SIB) dan Bandung Creative City Forum (BCCF) yang di dalamnya terdiri dari komunitas berbagai disiplin keilmuan, dari musisi, perupa, penulis, teknokrat, desainer, arsitek, bikers, ahli hukum, pengusaha, mahasiswa, aktivis lingkungan, penggiat film dan literasi, kelompok kampung adat Sunda, dan lain-lain. Salah satu manifestasi simpul-simpul komunitas ini adalah digelarnya Helarfest 2008 yang merupakan sebuah rangkaian 31 event yang diikuti komunitas-komunitas kreatif Kota Bandung yang digelar sepanjang Juli hingga Agustus 2008.

Scene Jakarta

Di Jakarta, komunitas music bawahtanah pertama kali tampil di depan publik pada awal tahun 1988. Komunitas anak metal—demikian mereka disebut karena saat itu istilah ‘underground’ atau ‘indie’ masih belum popular—biasa nongkrong di Pid Pub, sebuah pub kecil di kawasan pertokoan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Krisna J. Sadrach pentolan Sucker Head mengenang, anak-anak yang nongkrong di sana oleh Tante Esther, pemilik Pid Pub, sering diberi kesempatan untuk bisa manggung. Setiap malam minggu biasanya selalu ada live show dari band-band baru di Pid Pub dan kebanyakan band-band tersebut mengusung musik rock atau metal. Beberapa band pasti tak asing bagi kita, seperti Roxx, Sucker Head, Commotion Of Resources, Painfull Death, Rotor, Razzle, Parau, Jenazah, Mortus hingga Alien Scream. Beberapa band kemudian bereinkarnasi di sini, misalnya Commotion Of Resources yang merupakan cikal bakal Getah dan Parau yang merupakan embrio Alien Scream. Selain itu Oddie, vokalis Painfull Death selanjutnya membentuk grup industrial Sic Mynded di Amerika Serikat bersama sutradara Rudi Soedjarwo. Rotor sendiri dibentuk tahun 1992 setelah Irvan Sembiring merasa kurang ekstrim bermain di Sucker Head.

Saat itu, Jakarta juga memiliki stasiun radio yang khusus memutarkan lagu-lagu rock dan metal. Radio tersebut adalah Radio Bahama, Radio Metro Jaya, Radio SK, dan yang paling legendaris, Radio Mustang. Mereka punya program bernama Rock N’ Rhythm yang mengudara setiap Rabu malam dari pukul 19.00 – 21.00 WIB. Stasiun radio ini bahkan sempat disatroni langsung oleh dedengkot thrash metal Brasil, Sepultura, kala mereka datang ke Jakarta bulan Juni 1992. Selain radio, media massa yang kerap mengulas berita-berita rock/metal pada waktu itu adalah Majalah HAI, Tabloid Citra Musik dan Majalah Vista.

Tempat nongkrong yang lain adalah di pelataran Apotik Retna, daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Beberapa selebritis muda yang dulu sempat nongkrong bareng anak-anak metal ini antara lain Ayu Azhari, Cornelia Agatha, Sophia Latjuba, Karina Suwandi hingga Krisdayanti. Ayu Azhari bahkan sempat dipersunting (alm) Jodhie Gondokusumo (vokalis Getah dan Rotor) menjadi istri. Lokasi lainnya adalah, tentu saja, Studio One Feel. Hampir semua band bawahtanah Jakarta pasti pernah berlatih di sini. Sementrara itu, tempat khusus manggung selain Pid Pub adalah Black Hole dan restoran Manari Open Air di Museum Satria Mandala (cikal bakal Poster Café). Di luar itu, di paling pentas seni SMA dan acara musik kampus band-band bawahtanah Jakarta sering unjuk gigi kemampua mereka. Beberapa pensi yang historikal di antaranya adalah Pamsos (SMA 6 Bulungan), PL Fair (SMA Pangudi Luhur), Kresikars (SMA 82), musik kampus Universitas Nasional (Pejaten), Universitas Gunadarma, Universitas Indonesia (Depok), Unika Atmajaya Jakarta, Institut Teknologi Indonesia (Serpong), dan Universitas Jayabaya (Pulomas).

Konser Sepultura (1992) dan Metallica (1993) di Jakarta memberi kontribusi cukup besar bagi perkembangan band-band metal sejenis, terutama di Jakarta. Banyak band-band bawahtanah kemudian dilirik mayor label dan dirilis albumnya. Di antaranya adalah Roxxx self-tittled, Rotor album Behind The 8th Ball (AIRO), dan Sucker Head dengan album The Head Sucker.

Setelah era inilah baru benar-baner terbentuk scene-scene bawahtanah dalam arti yang sebenarnya di Jakarta. Konsolidasi scene sering dilakukan di lantai 6 game center Blok M, di sebuah resto waralaba, dan sebagian lainnya memilih nongkrong di basement Blok Mall yang kebetulan letaknya berada di bawah tanah. Aktifitas mereka selain nongkrong dan bertemu kawan-kawan sehasrat adalah bertukar informasi tentang band-band lokal dan global, barter CD, jual-beli t-shirt, hingga merencanakan pergelaran konser. Di era ini hype musik metal digandrungi adalah death metal, brutal death metal, grindcore, black metal hingga gothic/doom metal. Beberapa band yang tumbuh dari scene ini adalah Grausig, Trauma, Aaarghhh, Tengkorak, Delirium Tremens, Corporation of Bleeding, Adaptor, Betrayer, Sadistis, Godzilla dan masih banyak lagi. Tengkorak pada tahun 1996 malah tercatat sebagai band yang pertama kali merilis mini album secara independen di Jakarta dengan judul It’s A Proud To Vomit Him.

Tahun yang sama juga mencatatkan kelahiran fanzine musik bawahtanah pertama di Jakarta, Brainwashed Zine yang dirilis oleh Wenk Rawk. Edisi pertamanya terbit 24 halaman dengan menampilkan cover Grausig dan profil band Trauma, Betrayer serta Delirium Tremens. Di ketik di komputer berbasis sistem operasi Windows 3.1 dan lay-out cut n’ paste tradisional, Brainwashed diperbanyak 100 eksemplar dengan mesin foto kopi milik saudara Wenk Rawk. Di edisi-edisi berikutnya Brainwashed mengulas pula band-band hardcore, punk, bahkan ska. Tahun 1997, Brainwashed sempat dicetak ala majalah profesional dengan cover penuh warna. Brainwashed hanya bertahan hingga edisi ke tujuh tahun 1999, sebelum akhirnya di tahun 2000 Wenk Rawk menggagas e-zine di internet dengan nama www.bisik.com. Media-media yang selanjutnya lebih konsisten terbit di Jakarta adalah Morbid Noise zine, Gerilya zine, Cosmic zine, dan Rottrevore zine. Rottrevore merupakan kerja sama Rio dari Jakarta dengan Ferly, scenester pionir Ujungberung Rebels.

Tanggal 29 September 1996 adalah tanggal bersejarah bagi scene musik bawahtanah Jakarta. Hari itu, Poster Café milik rocker gaek Ahmad Albar pertama kali menggelar acara musik bawahtanah “Underground Session”. Acara ini kemudian dirutinkan tiap dua minggu sekali pada malam hari kerja. Dari café inilah kemudian lahir band indie baru yang memainkan genre musik berbeda dan lebih variatif, hingga ke ranah musik brit/indie pop, hingga ska. Getah, Brain The Machine, Stepforward, Dead Pits, Bloody Gore, Straight Answer, Frontside, RU Sucks, Fudge, Jun Fan Gung Foo, Be Quiet, Bandempo, Kindergarten, RGB, Burning Inside, Sixtols, Looserz, HIV, Planet Bumi, Rumahsakit, Fable, Jepit Rambut, Naif, Toilet Sounds, Agus Sasongko & FSOP adalah sebagian kecil band-band yang `kenyang’ manggung di sana. Dari Bandung, Burgerkill adalah salah satu langganan Poster Café. “Underground Session” Poster Café juga yang merupakan panggung scene bawahtanah bagi Burgerkill.

Setelah kerusuhan besar akibat bentrok anak-anak punk dengan warga dan kepolisian dalam acara Subnormal Revolution tanggal 10 Maret 1999, Poster Café akhirnya ditutup. Tutupnya Poster Café di luar dugaan malah menyuburkan venue-venue alternatif bagi masing-masing scene musik indie. Café Kupu- Kupu di Bulungan misalnya identik dengan scene musik ska, Pondok Indah Waterpark, GM 2000 café dan Café Gueni di Cikini untuk scene Brit/indie pop, Parkit De Javu Club di Menteng untuk gigs punk/hardcore dan juga indie pop. Belakangan BB’s Bar yang super- sempit di Menteng sering disewa untuk acara garage rock-new wave-mellow punk juga rock yang kini sedang hot, seperti The Upstairs, Seringai, The Brandals, C’mon Lennon, Killed By Butterfly, Sajama Cut, Devotion dan banyak lagi. Di antara semuanya, mungkin yang paling `netral’ dan digunakan lintas-scene cuma Nirvana Café yang terletak di basement Hotel Maharadja, Jakarta Selatan. Di tempat inilah, 13 Januari 2002, Puppen `menghabisi riwayat’ mereka dalam sebuah konser bersejarah yang berjudul, “Puppen : Last Show Ever”.

Scene Yogyakarta

Para scenester Yogyakarta ternyata tidak ketinggalan dalam mengembangkan scene indie di kotanya. Berbagai komunitas tumbuh di kota ini antara awal hingga pertengahan tahun 1990an, mulai dari komuitas musik metal, punk, hardcore, musik elektronik, dan industrial. Salah satu komunitas yang paling menonjol mungkin adalah Jogja Corpse Grinder. Dari tangan scenester-scenester komunitas inilah, sempat lahir fanzine metal Human Waste, majalah Megaton, serta pergelaran musik metal bawahtanah legendaris di Yogyakarya, Jogja Brebeg. Dari pergelaran-pergelaran musik metal bawhatanah yang digelar komunitas inilah kemudian lahir band-band metal bawahtanah lawas yang kemudian mewarnai scene kota ini. Mereka antara lain adalah Death Vomit, Mortal Scream, Impurity, Brutal Corpse, Mystis, dan Ruction.

Menginjak tahun 1997, scene punk, hardcore, industrial di Yogyakarta mulai bernai menampakkan taringnya. Sebutlah band-band yang kemudian begitu menginspirasi kaum-kaum muda di Yogyakarta seperti Sabotage, Something Wrong, Noise For Violence, Black Boots, DOM 65, Teknoshit hingga yang paling terkini, Endank Soekamti. Di ranah scene indie rock/pop, beberapa nama yang patut di beri highlight adalah Seek Six Sick, Bangkutaman, Strawberry’s Pop, sampai The Monophones. Dari Yogyaarta pula lahir band ska yang sangat keren, Shaggy Dog. Band yang dikontrak Sony ini pernah juga menjajal panggung Eropa dalam tur Eropa mereka selama tiga bulan penuh!

Dalam hal pergelaran musik, selain Jogja Brebeg, Yogyakarta juga tercatat memiliki pergelaran khas lainnya, yaitu Parkinsound. Gelaran ini adalah ajang unjuk gigi band-band yang menganut aliran musik elektronik. Bisa dikatakan, Parkinsound merupakan festival musik elektronik yang pertama di Indonesia. Beberapa band yang besar dari festival Parkinsound adalah Bangkutaman, hingga Garden Of The Blind, Mock Me Not, Teknoshit, Fucktory, Melancholic Bitch dan Mesin Jahat.

Scene Surabaya

Scene musik bawahtanah Surabaya mulai tumbuh subur sejak lahirnya band-band independen beraliran death metal dan grindcore sekitar pertengahan tahun 1995. Band-band ini tumbuh dari kultur festival tahunan Surabaya Expo di mana band-band metal bawahtanah seperti Slowdeath, Torture, Dry, Venduzor, dan Bushido manggung di sana. Surabaya Expo pada kelanjutannya ternyata mempersatukan band-band tersebut. Setelah event itu, band-band tersebut sepakat untuk mendirikan sebuah organisasi yang bernama Independen.

Organisasi ini bermarkas di daerah Ngagel Mulyo, bertujuan untuk mewadahi band, sekaligus menjadi pemersatu dan sarana sosialisasi informasi antara musisi, band-band, atau pecinta msuik metal bawahtanah. Markas Independen juga merupakan sebuah studio milik band metal berpersonil cewek semua, Retribeauty, di mana band-band metal bawahtanah Surabaya sering berlatih di sana. Anggota-anggota organisasi merupakan cikal bakal terbentuknya scene bawahtanah metal di Surabaya di masa-masa selanjutnya. Organisasi ini sangat serius dalam mengembangkan komunitasnya. Mereka malah memiliki divisi label rekaman sendiri. Independen juga sempat merencanakan sebuah pergelaran msuik metal bawahtanah se-Surabaya di taman Remaja, namun karma kurang konsolidasi ke dalam organisasi, terpaksa rencana pergelaran ini batal. Independen sendiri kemudian bubar bulan Desember 1997 ketika dinamika musik bawahtanah Surabaya semakin hebat. Organisasi ini dibubarkan sebagai upaya memperluas jaringan agar semakin tidak tersekat-sekat atau menjadi terkotak-kotak komunitasnya.

Pada masa-masa terakhir sebelum bubarnya Independen, divisi record label mereka tercatat sempat merilis beberapa buah album milik band-band death metal/grindcore Surabaya, misalnya debut album milik Slowdeath yang berjudul From Mindless Enthusiasm to Sordid Self-Destruction, September 1996, debut album Dry berjudul Under The Veil of Religion yang rilis tahun 1997, album Carnal Abuse milik Brutal Torture, Wafat album Cemetery of Celerage, dan debut album Fear Inside yang berjudul Mindestruction. Tahun-tahun berikutnya barulah bawahtanah metal di Surabaya dibanjiri oleh rilisan-rilisan album milik Growl, Thandus, Holy Terror, Kendath hingga Pejah.

Organisasi pecinta metal ekstrim setelah Independen adalah Surabaya Underground Society (SUS). Organisasi ini dideklarasikan tepat di malam tahun baru 1997 di kampus Universitas 1945, saat diselenggarakannya pergelaran Amuk I. Hingga saat itu, Surabaya sedang demam band black metal. Bahkan salah satu pionir death metal Surabaya, Dry, berubah aliran musik menjadi black metal dan semakin memberikan nuansa baru di kancah musik bawahtanah Surabaya. Masa ini black metal menguasai scene musik metal bawahtanah Surabaya.

Merasa semakin kuat, anak-anak black metal Surabaya meutuskan untuk memisahkan diri dari SUS dan mendirikan organisasi tersendiri khusus untuk anak-anak black metal. Organisasi anak-anak black metal tersebut akhirnya berdiri dengan nama Army of Darkness, bermarkas di daerah Karang Rejo. Organisasi ini juga yang kemudian menyebabkan SUS bubar beberapa bulan setelah deklarasi pendiriannya. Army of Darkness juga menyumbangkan semagat indie kepada scene musik bawahtanah Surabaya. Didukung oleh massa yang sangat banyak, black metal kemudian mendominasi scene ekstrem metal di Surabaya. Mereka juga lebih intens dalam menggelar event-event musik black metal karena banyaknya jumlah band black metal yang muncul. Tercatat kemudian event black metal yang sukses digelar di Surabaya seperti Army of Darkness I dan Army of Darkness II.

Berbeda dengan black metal, band-band death metal selanjutnya memutuskan tidak ikut membentuk organisasi baru. Namun tak berarti pergerakan mereka melempem. Di bulan September 1997 Amuk II kembali digeber, kini digelar di di IKIP Surabaya. Event ini kemudian mencatat sejarah sendiri sebagai event paling sukses di Surabaya kala itu. 25 band death metal dan black metal dari dalam dan luar kota tampil memeriahkan gelaran itu sejak pagi hingga sore hari dan ditonton oleh kurang lebih 800 – 1000 orang.

Dengan dinamika tersebut, anak-anak death metal kembai terpacu untuk membuah sebuah wadah perkumulan pecinta death metal yang baru. Tanggal 1 Juni 1998 berdirilah komunitas bawahtanah Inferno 178 yang markasnya terletak di daerah Dharma Husada, kawasan Jl. Prof. DR. Moestopo. Di sinilah mereka bergabung membuat divisi-divisi pengembangan komunitas mereka sendiri. Ada distro, studio musik, indie label, fanzine, warnet, serta event-event organizer yang secara intens menggarap berbagai pergelaran musik bawahtanah Surabaya. Event-event yang pernah di gelar oleh Inferno 178 antara lain adalah, Stop the Madness, Tegangan Tinggi I dan II, hingga Bluekhutuq Live. Dari pergelaran-pergelaran musik tersebut kemudian mencuat nama-nama yang kini tak asing lagi bagi kita, seperti Slowdeath, The Sinners, Severe Carnage, System Sucks, Freecell, dan Bluekuthuq. Inferno 178 juga menggagas terbitnya fanzine Surabaya bernama Post Mangled yang pertama—dan terakhir—kali terbit sebagai sebuah isu di pergelaran Tegangan Tinggi I di kampus Universitas Airlangga. Acara ini tergolong kurang sukses karena pada waktu yang bersamaan juga digelar sebuah event black metal.

Karena Post mangled tak juga terbit, para scenester Surabaya kemudian menerbitkan Garis Keras Newsletter sebagai antisipasi terjadinya stagnansi atau kesenjangan informasi di dalam scene. Newsletter ini terbit pertama kali bulan Februari 1999 dengan format fotokopian yang memiliki jumlah 4 halaman. Isinya mengulas berbagai aktivitas musik bawahtanah metal, punk hingga hardcore di tingkat local Surabaya dan Indonesia, serta scee global dunia. Garis Keras Newsletter bertahan hingga edisi ke dua belas.

Di ranah label, hingga tahun 2000 Inferno 178 masih menggunakan nama Independen sebagai nama label mereka. Memasuki tahun 2000 label Inferno 178 Productions resmi memproduksi album band punk tertua di Surabaya, The Sinners denga albumnya Ajang Kebencian. Selanjutnya label Inferno 178 Production ini kemudian lebih terfokus untuk menggarap rilisan-rilisan berkategori non-metal. Untuk mendukung rilisan album band-band metal Surabaya, mereka membentuk sebuah label tersendiri yang diberi nama Bloody Pigs Records. Label rekaman ini diurus oleh Samir, kini gitaris Tengkorak, dengan album kedua Slowdeath yang berjudul Propaganda sebagai proyek pertamanya. Proyek ini kemudian dilengkapi dengan pergelaran konser promo tunggal Slowdeath di Café Flower bulan September 2000.

Scene Malang

Scene musik bawahtanah Malang muali bagkit dari kubur sejak awal hingga pertengahan tahun 1990an. Tak namun, tak diragukan kebangkitan scene metal bawahtanah lah yang pertama kali enstimulasi pergerakan scene indie di Malang. Adalah komuntas musik metal bawahtanah Total Suffer Community (TSC) yang menjadi motor penggerak bagi kebangkitan komunitas rock bawahtanah di Malang sejak awal 1995. Disebut-sebut juga, pergerakan scene musik bawahtanah Malang sangat mirip dengan dinamika scene yang terjadi di Kota Bandung. Hal ini dpat ditelaah dari persamaan kondisi kedua kota. Baik Malang maupun Bandung sama-sama beriklim sejuk, didesain oleh desainer kota yang sama untuk kepentingan pemukiman orang Eropa dan pusat kegiatan militer, dan ini : banyak scenester Malang yang digembleng langsung di kantung-kantung komunitas musik bawahtanah Bandung decade awal dan pertangahan 1990an.

Sebut saja Samack yang sempat “magang” di Ujungberung serta klaster-klaster lain seperti Cihapit, Cihampelas, dan Tamansari—pusat-pusat metal di Kota Bandung. Atau scenester lain seperti Afril, Budi, dan Arfan yang setia berhubungan dengan scenester-scenester Bandung di masa-masa awal kebangkitannya. Merekalah yang kemudian membangun TSC yang merangkul seluruhpecinta musk metal secara umum. Alhasil, anggota TSC terdiri dari berbagai macam musisi lintas-scene, walau tetap saja didominasi anak-anak metal. Konser rock bawahtanah yang pertama kali digelar di kota Malang diorganisir pula oleh komunitas ini. Acara bertajuk Parade Musik Bawahtanah tersebut digelar di Gedung Sasana Asih YPAC pada tanggal 28 Juli 1996 dengan menampilkan band-band lokal Malang seperti Bangkai, Ritual Orchestra, Sekarat, Knuckle Head, Grindpeace, No Man’s Land, The Babies, dan juga band-band asal Surabaya seperti Slowdeath dan The Sinners.

Beberapa band Malang lainnya yang patut di beri kredit antara lain Keramat, Perish, Genital Giblets, Santhet dan tentunya Rotten Corpse. Band yang terakhir disebut malah menjadi pelopor style brutal death metal di Indonesia. Album debut mereka yang berjudul Maggot Sickness saat itu menggemparkan scene metal di Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Bali karena komposisinya yang solid dan kualitas rekamannya yang top.

Belakangan band ini pecah menjadi dua dan salah satu gitaris sekaligus pendirinya, Adyth, hijrah ke Bandung dan membentuk Disinfected. Di kota inilah lahir untuk kedua kalinya fanzine musik di Indonesia. Namanya Mindblast Zine yang diterbitkan oleh dua orang scenester, Afril dan Samack pada akhir 1995. Afril sendiri merupakan eks-vokalis band Grindpeace yang kemudian eksis di band crust-grind gawat, Extreme Decay. Kini, arek-arek Malang punya webzine sendiri yang digagas para pionir tadi. Namanya www.apokalip.com yang menawarkan tempat lebih luas untuk berbagi informasi dan menjalin komunikasi antara sesame scenester di manapun berada.

Scene Bali

Tak jauh dengan di Bndung, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang, di Bali pun yang menjadi motor penggerak dinamika perkembangan scene bawahtanah, maka kita akan melihat scene metallah yang pertama kali menyodok permukaan. Salah satu komunitas metal awal yang lahir di Bali adalah komunitas 1921 Bali Corpsegrinder di Denpasar. Di sinilah para scenester awal seperti Dede Suhita, Putra Pande, Age Grindcorner dan Sabdo Moelyo berkumpul dan membangun scene Bali. Dede adalah editor majalah metal Megaton yang terbit di Yogyakarta, Putra Pande adalah salah satu pionir webzine metal Indonesia Corpsegrinder (kemudian hijrah ke Anorexia Orgasm), Age adalah pengusaha distro yang pertama di Bali sejak tahun 1998, dan Moel adalah gitaris sekaligus vokalis band death metal etnik, Eternal Madness yang aktif menggelar konser bawahtanah di sana. Nama “1921” diambil dari durasi siaran program musik metal mingguan di Radio Cassanova, Bali yang berlangsung dari pukul 19.00 hingga 21.00 WITA.

Awal 1996 komunitas ini pecah dan masing-masing individunya jalan sendiri-sendiri. Moel bersama EM Enterprise, tanggal 20 Oktober 1996 menggelar konser musik bawahtanah besar pertama di Bali bernama Total Uyut di GOR Ngurah Rai, Denpasar. Band-band Bali yang tampil diantaranya Eternal Madness, Superman Is Dead, Pokoke, Lithium, Triple Punk, Phobia, Asmodius hingga Death Chorus. Sementara band- band luar Balinya adalah Grausig, Betrayer (Jakarta), Jasad, Dajjal, Sacrilegious, Total Riot (Bandung) dan Death Vomit (Yogyakarta). Konser ini sukses menyedot sekitar 2000 orang penonton dan hingga sekarang menjadi festival rock bawahtanah tahunan di sana. Salah satu alumni Total Uyut yang sekarang sukses besar ke seantero nusantara adalah band punk asal Kuta, Superman Is Dead. Mereka malah menjadi band punk pertama di Indonesia yang dikontrak 6 album oleh Sony Music Indonesia. Band-band indie Bali masa kini yang stand out di antaranya adalah Navicula, Postmen, The Brews, Telephone, Blod Shot Eyes dan tentu saja Eternal Madness yang tengah bersiap merilis album ke tiga mereka dalam waktu dekat.

Memasuki era 2000-an scene indie Bali semakin menggeliat. Kesuksesan S.I.D memberi inspirasi bagi band-band Bali lainnya untuk berusaha lebih keras lagi, toh S.I.D secara konkret sudah membuktikan kalau band `putera daerah’ pun sanggup menaklukan kejamnya industri musik ibukota. Untuk mendukung band-band Bali, drummer S.I.D, Jerinx dan beberapa kawannya kemudian membuka The Maximmum Rock N’ Roll Monarchy (The Max), sebuah pub musik yang berada di jalan Poppies, Kuta. Seringkali diadakan acara rock reguler di tempat ini.

Yang fenomenal mungkin adalah pencapaian Rudolf Dethu, sosok scenescter kawakan dari Bali yang sukses membawa S.I.D, band punk rockabilly dari Bali dari band kecil kelas indie menjadi raksasa punk nomer satu di Indonesia saat meriilis album Kuta Rock City dan menjual albumnya sampai 300 ribu keping lewat Sony BMG. Dethu boleh dibilang adalah seorang Malcom McLaren untuk band Sex Pistols, seorang manajer yang sukses juga membenahi fashion dari band miliknya. Selain karena dirnya adalah pemilik kloting Suicide Glam dengan desain bergaya punk dan rockabilly yang saat ini butiknya tersebar sampai di Australia dan Wurzburg, Jerman.

***

Maka demikianlah, semnagat bawahtanah terus menerus hidup hingga hari ini. Beberapa konsep refleksinya berevolusi dari underground di era 1990 awal, ke DIY di era 1990 pertengahan, hingga independen/indie di era 2000an. Akses internet yang semakin cepat hari ini juga sangat mendukung dinamika perkembangan scene ini. Akses informasi dan komunikasi yang terbuka lebar membuat jaringan antar komunitas seluruh Indonesia bahkan dunia semakin mudah dan terbuka lebar. Band-band dan komunitas-komunitas baru banyak bermunculan dengan menawarkan gaya musik yang lebih beragam. Trend indie label berlomba-lomba merilis album band-band lokal juga merupakan dinamika yang menggembirakan. Ratusan band baru lahir, puluhan indie label ramai-ramai merilis album, ratusan distro/kloting dibuka di seluruh Indonesia, ruang-ruang inisiatif semakin gencar membuaka ranah-ranah kreativitas scene, dan jejaring semakin mantap meneguhkan potensi politik, social, ekonomi, dantentu saja scene ini.

Namun itu adalah hasil. Yang tetap tak boleh dilupakan adalah proses menuju itu semua. Di dalamnya terkandung prinsip kebebasan dalam berkarya, kemandirian dalam mencipta, otonom dalam bersikap, berdiri tegak bicara lantang, dan sisanya, biarlah sejarah yang mencatat semuanya. Seperti kata Jim Morrison, each day is a drive thru history

Penulis adalah rekreasioner dan adiktivis akut, editor MinorBacaanKecil dan Minor Books

Bacaan Lebih Lanjut :

Heryanto, Yulli. 2001. Sejarah Musik Underground Bandung, 1990-2000, skripsi. Bandung : Fakultas Sastra, Unpad.

Iskandar, Gustaff H. 2003. “Fuck You, We are From Bandung”, makalah untuk disampaikan di Kongres Kebudayaan VII di Bukitinggi tanggal 20-22 Oktober 2003, pada sesi “Budaya Industri dan Pergulatan Identitas”. www.hetero-logia.blogspot.com

Kimung. 2007. Myself : Scumbag Beyond Life and Death. Bandung : Minor Books

Pratama, Wahyudi. 2007. A Little “Underground Music History” In Indonesia. www.mumet.shemut.net

_____­­­­___. 2006. Sejarah Musik Rock Indonesia. www.first-things-first.blogspot.com

www.apokalip.com

www.burgerkillofficial.com

www.commonroom.info

www.kimun666.wordpress.com

www.megaloblast.blogspot.com

www.musikator.com

www.reno-asnanda.blogspot.com

www.supri-online.com

ujungberung dalam legenda sangkuriang

July 17th, 2008 by drinkim-beam

<!–
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:"";
margin:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText
{mso-style-noshow:yes;
margin:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
span.MsoFootnoteReference
{mso-style-noshow:yes;
vertical-align:super;}
a:link, span.MsoHyperlink
{color:blue;
mso-text-animation:none;
text-decoration:none;
text-underline:none;
text-decoration:none;
text-line-through:none;}
a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed
{color:purple;
text-decoration:underline;
text-underline:single;}
/* Page Definitions */
@page
{mso-footnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/CENDIK~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") fs;
mso-footnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/CENDIK~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") fcs;
mso-endnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/CENDIK~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") es;
mso-endnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/CENDIK~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm") ecs;}
@page Section1
{size:612.0pt 792.0pt;
margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;
mso-header-margin:36.0pt;
mso-footer-margin:36.0pt;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
–>

UJUNGBERUNG DALAM LEGENDA SANGKURIANG*

 

 

“Sesuatu yang olehnya manusia
menjadi apa yang terwujud,

sesuatu yang olehnya manusia
mempunyai karakteristik yang khas,

sesuatu yang olehnya ia
merupakan sebuah nilai yang unik.”

Leahy, 1985

 

Legenda
Sangkuriang awalnya merupakan tradisi lisan. Rujukan tertulis mengenai legenda
ini ada pada naskah Bujangga Manik yang ditulis pada daun palem yang berasal
dari akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16 Masehi[1].
Dalam naskah tersebut ditulis bahwa Pangeran Jaya Pakuan alias Pangeran
Bujangga Manik atau Ameng Layaran mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di
Jawa dan

Bali

akhir abad ke-15. Setelah
melakukan perjalanan panjang, Bujangga Manik tiba di tempat yang sekarang
menjadi

kota

Bandung

. Dia menjadi saksi mata yang pertama
kali menuliskan nama tempat ini beserta legendanya. Laporannya adalah sebagai
berikut:

 

Leumpang aing ka
baratkeun

datang ka Bukit
Patenggéng
 

Sakakala Sang
Kuriang

Masa dék nyitu Ci
tarum

Burung tembey
kasiangan[2]

 

Berdasarkan
legenda tersebut diceritakan bahwa Raja Sungging Perbangkara pergi berburu. Di
tengah hutan, Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam daun cariang (keladi hutan). Seekor babi
hutan betina bernama Wayungyang yang tengah bertapa ingin menjadi manusia
meminum air seni tadi. Wayungyang hamil dan melahirkan seorang bayi cantik.
Bayi cantik itu dibawa ke keraton oleh ayahnya dan diberi nama Dayang Sumbi
alias Rarasati. Banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada
yang diterima. Akhirnya, para raja saling berperang di antara sesamanya.

Merasa
tidak enak dengan situasi tersebut, Dayang Sumbi atas permintaannya sendiri
mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu si Tumang.
Ketika sedang asyik bertenun, toropong
(torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah. Dayang Sumbi
karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu. Dia berjanji, siapa
pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan
dijadikan suaminya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang
Sumbi. Dayang Sumbi akhirnya melahirkan bayi laki-laki diberi nama Sangkuriang.

Ketika
Sangkuriang berburu di dalam hutan, disuruhnya si Tumang untuk mengejar babi
betina Wayungyang. Karena si Tumang tidak menurut, lalu dibunuhnya. Hati si
Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan
dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati
si Tumang, kemarahannya pun memuncak. Serta merta kepala Sangkuriang dipukul
dengan senduk yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga luka.

Sangkuriang
pergi mengembara mengelilingi dunia. Setelah sekian lama berjalan ke arah timur,
akhirnya sampailah ia di arah barat lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di
tempat Dayang Sumbi, tempat ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa
putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi–ibunya sendiri. Terjalinlah
kisah kasih di antara kedua insan itu. Tanpa sengaja, Dayang Sumbi mengetahui
bahwa Sangkuriang adalah puteranya, dengan tanda luka di kepalanya. Walau
demikian, Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi meminta
agar Sangkuriang membuatkan perahu dan sebuah talaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum.
Sangkuriang menyanggupinya.

Maka
dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang tumbuh di arah timur, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi
gunung Bukit Tunggul. Rantingnya ditumpukkan di sebelah barat dan mejadi Gunung
Burangrang. Dengan bantuan para guriang,
bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi bermohon kepada
Sang Hyang Tunggal agar maksud Sangkuriang tidak terwujud. Dayang Sumbi
menebarkan irisan boeh rarang (kain putih hasil tenunannya),
ketika itu pula fajar pun merekah di ufuk timur. Sangkuriang menjadi gusar, di puncak
kemarahannya, bendungan yang berada di Sanghyang Tikoro dijebolnya, sumbat
aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung
Manglayang. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang
dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud
menjadi Gunung Tangkubanparahu.

Melihat
itu, Dayang Sumbi segera melarikan diri. Sangkuriang terus mengejar Dayang
Sumbi yang mendadak menghilang di Gunung Putri dan berubah menjadi setangkai bunga
Jaksi. Adapun Sangkuriang, akhirnya menghilang kea lam gaib (ngahiyang) setelah
sampai di sebuah tempat yang disebut Ujungberung.

 

***

 

Legenda
bukanlah kisah historis, tetapi berupa mitos yang menjadi acuan hidup
masyarakat pendukung kebudayaannya. Demikian pula yang terjadi pada legenda Sangkuriang,
Gunung Tangkubanparahu, dan Ujungberung, ruang yang melatari kisah di dalam
buku ini. Sebelum kita benar-benar beranjak dari legenda dan mitologi dan masuk
ke pembahasan yang lebih komprehensif mengenai sejarah Ujungberung dan
komunitas Ujungberung Rebels, ada baiknya kita memahami lebih jauh makna di
balik legenda Sangkuriang.

Di bawah
ini adalah nama-nama dan tempat-tempat serta aspek lainnya yang terdapat dalam
legenda Sangkuriang, yaitu “Sungging Perbangkara”, “babi hutan Si Wayungyang”, “Dayang
Sumbi atau Rarasati”, “anjing Si Tumang”, “Sangkuriang”, “taropong (torak)”, “Citarum”, “Sanghyang Tikoro”, “Gunung Putri”, “Gunung
Manglayang”, “Talaga Bandung”, “kembang Jaksi”, “boeh raring”, “Gunung Bukit Tungggul”, “Gunung Burangrang”, “Gunung
Tangkuban Parahu”, dan akhirnya “Ujungberung.”

- SUNGGING PERBANGKARA. Artinya : Sungging = ukiran,ornamen. Perbangkara (Prabhangkara) = Prabha = cahaya. > ‘ng = penanda
hormat, honorifik. > kara =
matahari. Maknanya "Penanda dari kebaikan/kebenaran sebagai cahaya
pencerahan bagi yang menyimaknya"

- Babi
hutan WAYUNGYANG. Artinya: Wayungyang > w(b)ayeungyang = perasaan yang tidak tenteram, gundah gula.
Maknanya: Seseorang yang masih berada dalam sifat kehewanan tetapi telah mulai
bimbang dan menginginkan menjadi seorang manusia seutuhnya
(berperi-kemanusiaan).

- DAYANG SUMBI (DANGHYANG). Artinya : >
Dang = penanda hormat, honorifik. Yang < Hyang = gaib. > Sumbi
= 1) tendok = alat untuk menusuk hidung
kerbau agar menurut. 2) Bagian ujung terdepan dari perahu sebagai penunjuk arah
dalam berlayar. Maknanya: Petunjuk gaib sebagai kendali manusia dalam
menentukan arah dalam melayari kehidupannya. Bisa dimaknai pula sebagai kata
hati, nurani yang mendapat pencerahan hidayah Allah Swt.

- RARASATI nama lain dari Dayang Sumbi. Artinya : > Raras = perasaan yang sangat halus. >
ati = hati, qalbu. Maknanya: Hati atau qalbu yang penuh dengan kehalusan budi
karena mendapat pancaran sinar Ilahi.

- Si TUMANG. Artinya: > tumang = 1) Peti yang tertutup (b. Kawi),
2) mangmang = sumpah (b.Kawi) tu-mang-mang = orang yang terkena sumpah
karena waswas. Maknanya: karakter seseorang yang selalu asal bersumpah, waswas,
akhirnya termakan sumpahnya sendiri, hatinya seperti peti yang tertutup rapat
tidak mendapat pencerahan.

- SANGKURIANG. Artinya: > 1) Sang = penanda hormat, honorifik. > Kuriang < kuring = saya, ego. 2) Sang = penanda hormat, honorifik. > Kuriang < guru + hyang = ego yang gaib. Maknanya: Sangkuriang = Jiwa (ego) non material yang menjadi dasar tumbuhnya
kesadaran mental manusia yang selalu mendapat cobaan dan ujian kualitas
dirinya.

- TAROPONG. Artinya : 1) Alat bertenun
dari sepotong bambu kecil (tamiang)
tempat benang pakan (torak); 2) Alat
untuk melihat sesuatu agar lebih jelas (teropong). Maknanya: Kegiatan
(semangat) manusia dalam menata perilaku kehidupan agar terusun tertib sesuai
dengan kualitas dirinya serta mampu melihat dengan jelas alur (visi)
kehidupannya.

- Sungai
CITARUM. Artinya: > Ci < cai = air. > Tarum = sejenis tumbuhan, daunnya untuk
memberi warna indigo tua (hampir hitam) pada kain/benang tenun. Maknanya:
Kehidupan adalah seperti air mengalir dalam perjalanannya akan mengalami
beragam celupan kehidupan, kebahagiaan, keprihatinan dan juga hal-hal negatif
lainnya sebagai ujian keteguhan hatinya.

- SANGHYANG TIKORO. Artinya: > Sang = penanda hormat, honorifik. > Hyang = gaib. >Tikoro = saluran di leher untuk bernafas dan berbicara (tenggorokan)
atau saluran di leher untuk makan (kerongkongan). Maknanya : Kemampuan manusia
dalam berbicara tentang apa pun yang baik atau pun yang jelek serta sering
dilalui makanan entah yang halal atau yang haram.

- Gunung
PUTRI. Artinya > Putri = gadis,
wanita cantik jelita, bangsawan. Maknanya: Karakter manusia yang dihiasi nilai
keindahan dan cinta kasih. Dimaknai sebagi sifat kewanitaan (feminim, jamalliyah, rohimmi) yang penuh rasa kasih sayang.

- Gunung
MANGLAYANG. Artinya: > Manglayang = 1) ngalayang,
melayang. 2) Mang-layang > palayangan = Saluran untuk pembuangan
air kolam/talaga. Maknanya : Kemampuan manusia untuk menguras dan membersihkan
dirinya dari karakter yang kotor.

-
Kembang JAKSI . Artinya: 1) Jaksi
> bisa dimaknai jadi saksi . 2) Jaksi = bunga sejenis pohon pandan.
Maknanya: Segala sesuatu yang dikerjakan seseorang akhirnya akan menjadi saksi
pula bagi dirinya.

- BO’EH RARANG. Artinya : > Bo’eh = kain kafan. > rarang = suci, mahal. Maknanya: Semuanya
akan berakhir bila satu saat mau tidak mau harus memakai kain kafan yang suci,
yaitu datangnya waktu kematian mungkin secara fisik atau secara psikis.

- Gunung
BUKIT TUNGGUL. Artinya : > Bukit =
Bentuk gunung yang lebih kecil. > Tunggul
= pokok pohon. Maknanya: Siapapun orangnya, kaya-miskin, pembesar atau pun
rakyat kecil semuanya mempunyai pokok sejarah dirinya (leluhur) dan juga
mempunyai pokok jati dirinya.

- Gunung
BURANGRANG. Artinya > Burangrang
> Bukit + rangrang. > rangrang adalah
ranting. Maknanya : Siapa pun orangnya tetap akhirnya akan ada sangkut pautnya
dengan keturun dan masyarakat yang akan dating, yang pada gilirannya semuanya akan
hilang ditelan masa (ngarangrangan).

- Gunung
TANGKUBANPARAHU. Artinya: >Tangkuban
= tertelungkup, menelungkup. > Parahu
= perahu. > Gunung Tangkubanparahu = gunung yang bentuknya seperti perahu
yang tertelungkup. Maknanya: Dalam kosmologi Sunda, gunung dimaknai sebagai
tubuh manusia. Gunung Tangkubanparahu dimaknai sebagai manusia yang sedang
menelungkupkan dirinya dan itu menandakan suasana hati yang sedang bingung
penuh penyesalan.

- TALAGA BANDUNG. Artinya: > talaga = danau. >

bandung

= 1) perahu atau dua buah rakit yang disatukan dan di atasnya dibuat tempat
berteduh. 2)

bandung

>

bandung

+
an = memperhatikan, menyimak. Maknanya: Talaga dimaknai sebagai alam kehidupan
di dunia ini. Talaga Bandung = Dalam
kehidupan di dunia ini kita ibarat perahu yang dirakit berpasangan dengan
sesama makhluk lain, seyogyanya dapat membangun kehidupan bersama, yaitu
kehidupan yang saling memperhatikan, silih asih, silih asah dan silih asuh,
interdependensi (saling ketergantungan yang harmonis), equaliter (setara di depan
hukum), dan egaliter (setara di dalam kehidupan)

-
UJUNGBERUNG. Artinya: > ujung =
akhir. >berung > ngaberung = menurutkan hawa nafsu.
Maknanya : Berakhirnya gejolak hawa nafsu yang negatif.

 

***

 

Legenda
atau sasakala Sangkuriang dimaksudkan sebagai cahaya pencerahan (sungging perbangkara) bagi siapa pun
manusianya (tumbuhan cariang) yang
masih bimbang akan keberadaan dirinya dan berkeinginan menemukan jatidiri
kemanusiannya (Wayungyang). Hasil yang diperoleh dari pencariannya ini akan
melahirkan kata hati (nurani) sebagai
kebenaran sejati (Dayang Sumbi, Rarasati). Tetapi bila tidak disertai dengan
kehati-hatian dan kesadaran penuh/eling (toropong),
maka dirinya akan dikuasai dan digagahi oleh rasa kebimbangan yang terus
menerus (digagahi si Tumang) yang akan melahirkan ego-ego yang egoistis, yaitu
jiwa yang belum tercerahkan (Sangkuriang). Ketika Sang Nurani termakan lagi
oleh kewas-wasan (Dayang Sumbi memakan hati si Tumang) maka hilanglah kesadaran
yang hakiki. Rasa menyesal yang dialami Sang Nurani dilampiaskan dengan
dipukulnya kesombongan rasio Sang Ego (kepala Sangkuriang dipukul).
Kesombongannya pula yang mempengaruhi “Sang Ego Rasio” untuk menjauhi dan
meninggalkan Sang Nurani. Ternyata keangkuhan Sang Ego Rasio yang
berlelah-lelah mencari ilmu (kecerdasan intelektual) selama pengembaraannya di
dunia (menuju ke arah Timur). Pada ahirnya kembali ke barat yang secara sadar
maupun tidak sadar selalu dicari dan dirindukannya yaitu Sang Nurani (Pertemuan
Sangkuriang dengan Dayang Sumbi).

Walau
demikian, ternyata penyatuan antara Sang Ego Rasio (Sangkuriang) dengan Sang
Nurani yang tercerahkan (Dayang Sumbi), tidak semudah yang diperkirakan.
Berbekal ilmu pengetahuan yang telah dikuasainya Sang Ego Rasio (Sangkuriang)
harus mampu membuat suatu kehidupan sosial yang dilandasi kasih sayang, interdependensi–silih
asih, silih asah, dan silih asuh—yang humanis harmonis, yaitu satu telaga
kehidupan sosial (membuat Talaga Bandung) yang dihuni berbagai kumpulan manusia
dengan bermacam ragam perangainya (Citarum). Sementara itu, keutuhan
jatidirinya pun harus dibentuk pula oleh Sang Ego Rasio sendiri (pembuatan
perahu). Keberadaan Sang Ego Rasio itu pun tidak terlepas dari sejarah dirinya,
ada pokok yang menjadi asal muasalnya (Bukit Tunggul, pohon sajaratun) sejak dari
awal keberada-annya (timur, tempat awal terbit kehidupan). Sang Ego Rasio pun
harus pula menunjukkan keberadaan dirinya (tutunggul,
penada diri) dan pada akhirnya dia pun akan mempunyai keturunan yang terwujud
dalam masyarakat yang akan datang dan suatu waktu semuanya berakhir ditelan
masa menjadi setumpuk tulang-belulang (Gunung Burangrang).

Betapa
mengenaskan, bila ternyata harapan untuk bersatunya Sang Ego Rasio dengan Sang
Nurani yang tercerahkan (hampir terjadi perkawinan Sangkuriang dengan Dayang
Sumbi), gagal karena keburu hadir sang titik akhir, akhir hayat dikandung badan
(boeh rarang atau kain kafan).
Akhirnya suratan takdir yang menimpa Sang Ego Rasio hanyalah rasa menyesal yang
teramat sangat dan marah kepada “dirinya”. Maka ditendangnya keegoisan rasio
dirinya, jadilah seonggok manusia transendental tertelungkup meratapi
kemalangan yang menimpa dirinya (Gunung Tangkubanparahu).

Walau
demikian lantaran sang Ego Rasio masih merasa penasaran, dikejarnya terus Sang
Nurani yang tercerahkan dambaan dirinya (Dayang Sumbi) dengan harapan dapat
luluh bersatu antara Sang Ego Rasio dengan Sang Nurani. Tetapi ternyata Sang
Nurani yang tercerahkan hanya menampakkan diri menjadi saksi atas perilaku yang
pernah terjadi dan dialami Sang Ego Rasio (bunga Jaksi).

Akhir
kisah yaitu ketika datangnya kesadaran dan berakhirnya kepongahan rasionya
(Ujungberung). Dengan kesadarannya pula, dicabut dan dilemparkannya sumbat
dominasi keangkuhan rasio (gunung Manglayang). Maka kini terbukalah saluran
proses berkomunikasi yang santun dengan siapa pun (Sanghyang Tikoro atau
tenggorokan; B.Sunda: Hade ku omong goreng ku omong). Dan dengan cermat dijaga
benar makanan yang masuk ke dalam mulutnya agar selalu yang halal bersih dan
bermanfaat. (Sanghyang Tikoro = kerongkongan, genggerong).

Konsep Kearifan di Balik Legenda Sangkuriang

Beragam
interpretasi yang muncul dilatarbelakangi oleh pemaknaan terhadap konsepsi yang
terkandung pada pesan yang disampaikan dari rangkain cerita yang dituturkan.
Konstruksi konsep yang disampaikan ini tidak terlepas dari milieu untuk
mengatasi ruang dan mendudukkan kemanusiaan pada tempat yang tak terjajah oleh
kepanaan. Konsep yang utuh mengandaikan semua bagian yang dibutuhkan untuk
menyokong tegaknya teori terpenuhi, baik dari akar, cabang sampai kepada
rantingnya.

Kacamata
tersebut mengidentifikasikan bahwa “Sangkuriang” adalah sebuah konsep kepercayaan
atau filsafat hidup masyarakat sunda buhun.

Ada

keterkaitan yang erat antara realitas “hyang”
dengan “sang kuring”, “sang kuring” dengan Citarum, dan “sang kuring” dengan gunung
dan si Tumang. Secara sederhana ini adalah gambaran dari “sang kuring” secara
personal dan mandiri tidak terlepas dari tiga hakekat yaitu ketuhanan (Hyang), sosial
(Citarum dan Talaga Bandung), dan alam. Aspek kedirian “sang kuring” tidak
terlepas dari unsur kemanusiaan yaitu problem kehidupan dan kematian, nurani
dan rasio, ego, dan superego. “Sang kuring” hidup bebas dengan segala
potensinya dalam batasan dunia yang meliputinya. Dua konsep yang terkandung
dalam mitologi tersebut yaitu konsep ketuhanan/ teologis dan kemanusiaan akan
coba digali dibawah ini:

 

Konsep teologis

Menurut
Jakob Sumardjo (2002), dalam lintasan sejarah kerohanian

Indonesia

dikenal adanya hirarki tiga dunia, yaitu; dunia atas, dunia tengah dan dunia bawah.
Dunia atas adalah dunia “hyang”, dunia tengah adalah dunia perantara yang bersifat
gaib dan ambivalen, dan dunia bawah adalah dunia manusia. Manusia berasal dari
dunia atas, dari sang hyang. Oleh karena itu, dalam kepercayaan Sunda, istilah
yang merujuk kepada tuhan adalah “hyang” atau “sanghiang”. Istilah hyang
dianggap sebagi istilah universal yang dipercaya sebagai perwujudan logos, kata tersebut pararel dengan
tuhan Allah dalam Islam dan Kristen, Tian dalam Konghucu. Perbedaan pelafalan
dan kata kalau dianalisa secara semiotis terletak pada aspek lingua, bukan pada
penanda absolutnya.

Gambaran
ketuhanan dalam mitologi diwakili oleh sosok raja Perbangkara/Prabhangkara.
Raja adalah sesuatu yang dikenal dalam budaya manusia. Hal ini untuk
menunjukkan keberadaan tuhan yang tidak jauh dengan kemanusiaan. Tuhan yang
aktif, yang tanggap akan doa hamba-Nya. Tuhan yang memberikan wayungyang atau cahaya pencerahan kepada
manusia baik dalam bentuk wahyu, ilham, alam sebagai sebuh pegangan.

Komunikasi
antara dunia atas dan dunia bawah yang disimbolkan melalui Dayang Sumbi atau
Danghyang Sumbi dapat dianalisa bahwa Danghyang Sumbi berposisi di dunia tengah,
yang dalam kepercayaan Sunda dianggap memiliki aspek metafisis “Hyang” sebagai
representasi dari dunia atas. Perkawinan yang diharapkan bukan perkawinan
dengan Dayang Sumbi tetapi perkawinan dunia atas dan dunia bawah atau ber-tajalli-nya manusia dengan Tuhan.
Danghyang Sumbi adalah perantara yang bisa menyatukan antara kedua dunia
tersebut, atau bisa disejajarkan dengan ajaran cinta ketuhanan yang bisa
mengantarkan kedekatan manusia dengan Tuhan.

Dalam
alur diceritakan bahwa ketika Sangkuriang hendak membuat perahu untuk berlayar
ia menebang sebuah pohon, bekas pohon tersebut kemudian menjadi tunggul. Tunggul bisa dipahami sebagai asal pohon atau ditarik kepada
tataran yang luas adalah asal dari segala sesuatu, termasuk awal dari manusia
itu sendiri. Manusia lahir dari proses hidup alami yang awalnya adalah dari
satu eksistensi.

Kata
tunggul dalam analisa semiotik secara ponetis dekat dengan kata tunggal/
nunggal/ tutunggul/ tanggul/ tanggal. Tunggul
identik dengan tunggal, awal sesuatu adalah tunggal kemudian menjadi tunggul.
Asal dan akhir sesuatu inilah yang merepresentasikan hakekakat ketuhanan.
Hakekat ketuhahan dalam mitologi tersebut bisa dipahami sebagai Tuhan yang
tunggal atau monotheis.

 

Konsep kemanusiaan

Sangkuriang
atau “sang kuring” dalam legenda tersebut apabila dianalisa lebih lanjut
menujukkan bagaimana sebuah konsep kesundaan tentang manusia sunda atau
filsafat manusia Sunda dikemas, digambarkan, dan disampaikan kepada kita
sebagai sebuah prinsip yang mapan dan utuh baik sebagai manusia psikologis,
sosial, maupun spritual. Berbicara inti manusia, alam kodratnya dan strukturnya
yang fundamental. Bukan hanya manusia dilihat sebagai suatu makhluk, sebuah
benda, tapi suatu prinsip adanya (principe
d’etre
).

Manusia
yang “sang kuring” ini pertama digambarkan sebagai mahluk biologis (Sangkuriang
lahir dari ibunya Dayang Sumbi) yang mempuyai hasrat seksual (ingin mengawini
perempuan), makan dan minum (berburu untuk makan). Ilustrasi ini menunjukkan
bahwa sang kuring bukan dewa, tetapi manusia biasa. Sang kuring secara biologis
adalah manusia yang berkaitan dengan unsur material, manusia secara otomatis tunduk
kepada takdir tuhan di alam semesta.

Sang
kuring apabila dibandingkan dengan makhluk lainnya (anjing Si Tumang) mempunyai
kelebihan karena ia diberi Nurani dan Akal. Lewat akalnya manusia diberi
kemampuan mengembangkan daya nalarnya (Sangkuriang mengembara). Melalui potensi
akalnya inilah manusia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang benar.
Nurani selalu membimbing manusia untuk taat dan patuh pada cahaya tuhan. Tetapi
karena potensi akalnya, manusia bebas mengikuti atau melepaskan diri dari-Nya.

Manusia
juga adalah makhluk sosial. Permintaan Danghyang Sumbi membuat Talaga Bandung
adalah manifestasi dari pentingnya kehidupan sosial. Bukan hanya itu, sang
kuring kemudian bukan hanya membuat telaga kehidupan–membangun tatanan
masyarakat, tetapi juga mengarungi telaga tersebut dengan perahu yang kokoh
supaya tidak tenggelam dalam riuh dan ributnya arus air. Melepaskan tabir
individualitas dan kesombongannya dengan menjaga tikoro atau kerongkongannya dari hal yang mencelakakan.

Manusia
yang diilustrasikan mitologi Sangkuriang memperlihatkan manusia dalam
ketegangan antara predisposisi negatif dan positif. Dorongan nafsu mendorong
manusia untuk terjun ke lembah syahwatiah
dan mengabaikan nilai-nilai cahaya pencerahan; sedangkan nurani menuntun
manusia senantiasa mengakrabi tuhan dan kebenaran. Manusia dituntut untuk
memenangkan predisposisi positif yaitu mengikuti fitrah kemanusiaan.

Manusia
secara kongkrit dituntut harus menyeimbangkan atau mengawinkan antara rasio dan
nurani dengan tulus. Melakukan perintah dengan ikhlas dan penuh tanggungjawab.
Sehingga manusia menemukan dirinya nunggal dalam kesatuan eksistensi.

 

***

 

Demikianlah
sekelumit kearipan pandangan hidup Sangkuriang dalam melayari kehidupannya baik
sebagi manusia lahir ataupun manusia transenden. Tentu saja tafsir ini bukanlah
satu-satunya karena dalam mitologi tersebut masih menyimpan beribu tafsir
kearipan yang dapat kita ambil dan hayati.

Kini,
jelaslah sudah posisi “ujungberung” dalam ranah dan alur hidup manusia yang
sedang mencari jati diri. Semoga dari Ujungberung Rebels kita bisa paham ujung
perjalanan kita yang tak berujung.

 

 

 * Tulisan ini diambil dari karya Hidayat Suryalaga di Bandung, 18
April 2004, Kajian Hermeneutika terhadap
Legenda dan Mitos Gunung Tangkubanparahu dengan Segala Aspeknya
,
disampaikan dalam orasi ilmiah wisuda mahasiswa Itenas, Bandung, 28 Mei 2005,
dan termuat di situs www.wikipedia.org.
 Tafsiran konsep kearifan di balik
legenda Sangkuriang diambil dari karya Mang ManAR, “Eksistensi Sufistik
Sangkuriang”, Cisela, 12 April 2008, termuat di www.sundanet.com.


[1] Beberapa
karya sastra bertemakan legenda Sangkuriang dan Gunung Tangkubahparahu adalah :

 - Sang Koeriang, A.C. Deenik diambil dari Pleyte. Tt.

 - Gunung Tangkuban Parahu, R. Satjadibrata, 1946

 - “Babad Sangkuriang”
dalam Naskah Sunda Lama Kelompok Babad,
Edi S. Ekadjati, 1983.

 - Gending karesmen Sangkuriang Larung, Hidayat Suryalaga,
1973.

 - Sangkuriang, Hasan Wahyu Atmakusumah, 1955

 - Sang Kuriang, Kusnadi Prawirasumantri, 1992

 - Ngabendung Situ, Ajip Rosidi, 1962

 - Sang Kuriang,

Beni

Setia, 1972

 - Tapak Sangkuriang, Dadan Bahtera, 1989

 - Sangkuriang Kabeurangan, Wahyu Wibisana, 1992

 - Pergeseran Fungsi Mitos Sangkuriang dari
Cerita Sangkuriang ke dalam Sajak Sunda
, Suhandi, Fakultas Sastra Unpad, 1994.

[2] Aku berjalan ke arah barat

 Kemudian datang ke Gunung Patenggeng

 Tempat legenda Sang Kuriang

 Waktu akan membendung Citarum

 Tapi gagal karena kesiangan

ZINE-ZINE DI UJUNGBERUNG REBELS

May 13th, 2008 by drinkim-beam

ZINE-ZINE DI UJUNGBERUNG REBELS

Salah satu indikator perkembangan sebuah komunitas dpt diukur dr keberadaan zine sbg salah satu alat informasi & komunikasi antar & antara komunitas. Dinamika perkembangan komunitas dpt ditelusuri dr sgl yg diberitakan dalam zine, baik bersifat jurnalisme ataupun wacana & sejarah.

Di Ujungberung Rebels (selanjutnya Uberebels), dlm kurun waktu 12 thn setidaknya ada 9 buah zine yg merekam dinamika perkembangan scene. Zine2 tsb adalah Revograms (1995-1997), Ujungberung Update (1998-1999), Loud n’ Freaks (1999), Crypt of the Abyss (1999), The Evening Sun (1999), Rottrevore Magz (1999-2004), New Noise (2000-2003), MinorBacaanKecil (2003-…), dan Totalokal (2005-…).

Revograms

Revograms selalu disebut2 sbg zine pertama di scene musik bawahtanah

Indonesia

. Zine ini digagas Dinan sbg salah satu manifestasi Extreme Noise Grinding, selain jg sbg corong propaganda event Bandung Berisik I.Revograms#1 terbit Maret 1995. Covernya gambar tangan Dinan, wajah monster ular dikelilingi tengkorak2 & wajah2 jiwa yg tersiksa di sekelilingnya. Di bawahnya ada tulisan dr rugos : Total Local Underground Info. Edisi ini digarap tim redaksi yg beranggotakan Ivan, Kimung, Dani, Dadan, Agus, Yayat & Gatot. Ivan, sang pemred menamai tim ini Tim Krucil Revograms. Dinan, editor, mengawasi tim ini, jg lini advertising (Agus), product sales (Ipunk & Yayat), editor foto (Sule), dan kontributor (Kang Soleh & Kang Bey). Markas redaksi di Jln Rumah Sakit No.72 Ujungberung dan markas distibusi di Palapa Photo Studio, Jl. Raya Ujungberung No.118. Di bawah informasi kru Revograms, Ivan menggambar komik pemuda metal mengacungan 2 jari simbol peace, dgn tulisan “No Posers! No Drugs! No Violence, Peace & Get a Better Life!”

Revograms#1 memuat 9 rubrik : “Graveyard Sound” (pengantar redaksi), “The Intruder” (wawancara), “Live Review” (liputan), “Cartoon Crew” (komik), “Black Isssue” (info band2 luar negeri), “Minded Mania” (info band2 lokal), dan “Dealer” (kolom iklan dgn biaya 1000 perak per-iklan). Revograms Vol.1 ditutup oleh back-cover propaganda merchandise ENG. Edisi ini 98% pengerjaannya kolase handmade. Pengantar redaksi dan live review benar-benar ditulis tangan oleh Ivan. Foto2 & artikel yg ditik dan print dilayout dgn sistem gunting-tempel di atas latar hitam, hlmn majalah horror luar negeri, atau kertas bergambar tangan Dinan.

Revograms#2 terbit Juli 1995. Di lini editor, kini Dinan didampingi Yayat, Dani (bendahara), Kang Soleh & Kang Bey (kontributor), advertising (Agus), editor foto (Sule), sementara tim redaksi kini adalah Ivan, Ipunk, Gatot & Georgy. Produk2 merchandise ditangani ENG Co. & distribusi ditangani Palapa Studio. Revograms#2 msh memuat rubrik yg sama, dgn penambahan rubrik ENG, Quiz & Demo Tape Promotion. Proses kreatifnya tdk jauh berbeda. Masih kolase gunting-tempel.

Di edisi#4, Revograms bersinergi dgn Graveyard Production-nya Mas Harry Surabaya, terbit Juli 1997 bbrp waktu sblm Bandung Berisik II. Pergelaran ini jg yg menjadi fokus utama Dinan dgn memajang iklan Bandung Berisik II yg provokatif di halaman depan & tengah. Dr iklan tsb, terlihat bgmn sinergi ENG yg telah menggurita dgn komunitas-komunitas di lain seluruh

Indonesia

. Sinergi ini diperkuat dgn pemuatan informasi Most Wanted Distributors musik metal bawahtanah di

Bandung

,

Jakarta

,

Surabaya

,

Malang

, Yogyakarta & Bali. Jaringan ini, selain mencakup peredaran merchandise band, jg kerja sama event musik & sharing media informasi & komunikasi. Di edisi ini Dinan kini menangani semua sendirian, hanya dibantu Mas Harry dr

Surabaya

. Dinan bahkan mengerjakan produksi Revograms#4 Juni 1997 di Surabaya. Ia jg memindahkan alamat Revograms ke rumahnya di Jl. Riung Karya Juang I No.12 Bandung 40295.

Revograms#4 dibagi tanpa rubrikasi, hanya menuliskan daftar bahasan & liputan. Ia mengulas band Rotten Corpse, Retribeauty, Trauma, Anti Septeic & Step Forward, mewawancara Burgerkill, meresensi kaset2 Forgotten, Grausig, Rotten Corpse, Perish, Eternal Madness, Turtles Jr., menuliskan essay mengenai sejarah Ujungberung dlm artikel “Bandung Timur Most Wanted”, serta memajang reaksi musisi dari kota-kota di Indonesia atas fitnah yang dimuat media besar Tabloid Adil yang memuat berita mengenai satanisme di kalangan musisi bawahtanah Indonesia. Ia jg memajang poster2 propaganda, terutama yg berkaitan dgn Bandung Berisik II. Di akhir essay “Bandung Timur Most Wanted”, Dinan menuliskan semangat juang para pentolan komunitas musik bawahtanah Ujungberung :

Community bawah tanah

Bandung

Timur People yg hidup di bawah standar umum sosial tidak membuat mereka mengeluh kelamaan. Orang-orang spt Yayat (Jasad), Amank (Embalmed), Andries (Sonic Torment), Ara (Naked Truth), & Addi (Forgotten), mereka adalah orang-orang yang tanpa lelah terus berusaha & berkarya mendedikasikan seluruh hidupnya untuk musik & community dunia bawah underground

Bandung

. mereka memang bukan yang pertama & yg terbaik, tapi mereka yakin bahwa mereka tidak mau jadi yg terakhir… How about you?

Ujungberung Update

Ujungberung Update digagas Addy Gembel, Amenk & Sule. Update dibuat sbg corong propaganda kompilasi Ujungberung Rebels & berbentuk selembaran A3. Ketika terbit Juni 1998, Update#1 lsg menghajar dgn kritik sosial thd kondisi krisis moneter & bgt banyak politisi oportunis, seniman, musisi, dll yg bagi anak2 Uberebels tak lebih di pahlawan kesiangan yg cuma posing belaka. Essay yg ditulis Addy Gembel itu jg memepertanyakan kembali nilai2 & komitmen yg kuat dlm kutur musik bawahtanah serta perkenalan konsep & prinsip2 komunitas Ujungberung Rebels. Di akhir wacana, Gembel memperkenalkan 14 band Ujungberung Rebels, yaitu Burgerkill, Impure, Dining Out, Disinfected, Restless, Jasad, The Cruels, naked Truth, Disorder Lies, Sacrilegious, Suffer Remains, Beside, Forgotten, Bedebah, dan Ekstrim Kanan. Di hlmn selanjutnya Update memuat dua rubrik, yaitu “BISU”(Brutal Issue Selebritis Ujungberung), dan “Rebel Attitude”. Keduanya merupakan kolom gosip kalangan anak2 Ujungberung. Dua kolom ini lalu tenar dgn sebutan “Gogon” atau “Gosip-gosip Underground.”

Di edisi kedua, Maret 1999, Gembel kembali menghajar tatanan pemikiran komunitas dgn

Intro “Manusia Dikutuk untuk Bebas.”, sebuah propaganda yang lain tentang memutuskan sendiri bagaimana cara untuk hidup sekaligus menyoroti cap band komersil kepada band2 Uberebels hanya krn mrk meminta bayaran kepada pihak penyelenggara event atas nama slogan yg penyeleggara bikin sendiri : “Support Your Local Underground Bands!”  Di hlmn belakang, Gembel mempublis

surat

cintanya “Surat Cinta Homeless Crew”, yg pd hakikatnya pengenalan eksistensi attitude bawahtanah, sgala pertentangan & kompleksitas hubungan sosialnya dgn masyarakat banyak, hingga ke hubungan yg paling personal : percintaan.

Loud n’ Freaks

Loud n Freaks digagas Toto Burgerkill (editor), Feby Balcony (desain), & Pam Runtah (kontributor). Ini adalah zine khusus penggemar hardcore & memuat info2 ttg hardcore serta

gaya

hidupnya dgn markas di Jl. Golf D2/1B Cisaranten Ujungberung.. Edisi#1 terbit Januari 1999 dgn rubrik Core (redaksional), Essay2 (ada empat “Underground kembali ke Do It Yourself”, “Jangan Gunakan XXX Sembarangan”, “Anarki Apakah Bisa Eksis di Republik Indonesia”, dan “Borok Attitude Masih Perlukah Dianggap Rendah”), World Wide Hardcore Scene (info scene hardcore dunia), Wawancara (Forgotten, Savor of Filth, Turtles Jr., Reportase Show, Bandung Underground Info, Review Band (Take A Stand & Disinfected), Review Musik (Balcony, CoreTex, Friday 13th, Forgotten, Grill Salmon, Impious, Jeruji, Kekal, Naked Truth, Noin Bullet, Turtles Jr.) Review Fanzine (Tigabelas#1, Pangcore#3&4, Over the Edge#9, Revolted#1, The Kan Du#1, In Effect, International Straight Edge Bulletin, Reflection, Lion City Skins, Neptune), dan Ending. Di Ending, Toto menulis : “Kami benar-benar ingin mempertahankan fanzine ini sehingga kita akan kembali bekerja untuk edisi mendatang. Mudah-mudahan kami tidak mendapat banyak masalah yang berarti dan dengan cepat dapat menjumpai kalian semua. Kalian yang mendukung penuh dan antusias, tunggu apa lagi… Label, distro, band, individu, atau siapa saja, ditunggu kontribusinya. See you…” Loud n’ Freaks memang hanya bertahan satu terbitan lagi, namun dari struktur penempatan rubrikasi para penggagas semakin menyetarakan scene lokal dan scene global.

Crypt of the Abyss

Crypt of the Abyss digagas Opik Sacrilegious, berisi info2 black metal. Di edisi pertama tanpa tedeng aling2 Opik membuka Crypt dengan What the Hell Inside this Isuue (isi), sebuah Introduction (pengantar dengan ilustrasi bintang porno Asia Carerra) dan The Enlightment. Crypt mereview band Incantation, Arcanum (lokal), Celestral (lokal), Point Blank (lokal), Virus Politik (lokal), Vile Intent, Jasad (lokal), Conceal, dan Nocturnal Orchestra (lokal). Dari set ini kita tahu jika pd masa ini pemuatan rubrikasi review band telah lepas dari batasan Negara. Segalanya sudah semakin mencair dan band2 lokal sudah dianggap sejajar dengan band2 luar negeri.

Untuk dukungannya terhadap scene musik local, Cryp punya rubrik Disorderly Trunks of Unusually Crypt Tempest, mereview band The Abyss, Marduk, Disinfected, Decay, Sacrilegious, Amalthea, v.a Brutally Sickness Vol.2,  Forgotten, Victim of Rage, Injected Sufferage, Naked Truth, Sepultura, Motor Death, Unseen Darkness, Embalmer, Dimmu Borgir, dan v.a Death is Just the Beginning Vol.4. Crypt jg memuat review zine-zine lokal seperti Morbid Noise Zine & Gerilya Underground Fanzine, selain mengiklankan The Evening Sun.

Untuk berita, Crypt punya rubric News, Whole Sale Price List June-July 1999 Focflame Records Bandung, dan Scene Report Ujungberung Rebels yang memuat kabar2 terbaru anak2 Uberrebels. Crypt juga memuat iklan Rebel Sound & Rebelliondgn produksi merchandise Burgerkill Every Mother’s Nightmare dan Everything Sucks, Disinfected logo dan Within Subsconcious Mind, serta Forgotten Obsesi Mati.

The Evening Sun

Majalah gothic pertama di

Indonesia

yang digagasDani, salah satu pionir Uberebels, penabuh drum Jasad dan pendiri band gothic, Restless. The Evening Sun memuat artikel mengenai sejarah gothic, musik, scene gothic lokal dan luar negeri, dan perkembangannya kini. Memuat wawancara Within Temptation, Pilori, ulasan mengenai Theater Tragedy, Sirrah, dan segala macam pergothikan. The Evening Sun hanya satu kali terbit pada Oktober 1999.

Rottrevore Magz

Rottrevore adalah majalah tergaya di di Uberebels. Inilah satu2nya zine yg dicetak dgn kualitas baik. Rotrevore digagas Ferly,

Rio

, dan Andre. Rottrevoe juga dapat disebut sebagai zine metal bawahtanah terbaik yang pernah ada di

Indonesia

baik dalam sisi tataletak maupun dalam isi. Wacana yang diangkat lebih mendalam santai, namun tak mengurangi kegaharan sebuah zine metal yang seharusnya. Rottrevore selalu menggunakan kertas buram, dan di siniliah pemberontakan itu ada. Sebagai zine yang berpihak kepada musik bawahtanah, Rottrevore memang yg terbaik.

New Noise

Setelah Loud n Freaks tak berjalan, Toto berkolaborasi dengan Eben untuk menerbitkan sebuah zine hardcore, metal, dan punks. Zine mereka berdua adalah New Noise, menampilkan kabar-kabar terbaru mengenai scene metal, hardcore, dan punk. New Noise terbit

lima

kali sepanjang 2000 hingga 2003. Formatnya sudah jauh lebih baik dari zine-zine yang sudah pernah terbit. Dilayout oleh Eben dalam Adobe Photoshop dan CorelDraw.

MinorBacaanKecil

MinorBacaanKecil—selanjutnya Minor saja—sebenarnya tdk bersinggungan lsg dgn Uberebels, selain dibuat o/ Kimung yg notabene besar di Uberebels. Minor dibuat tahun 2003 oleh Norvan, Kimung, Congor, Popup, Danive, Hana, Nyda, dan Sundea di Negeri di Awan, Sastra Unpad. Setelah edisi ke 9 barulah Minor bersinggungan dengan Uberebels, ketika Minor memuat Ujungberung Update sebagai rubrik tetapnya. Pemuatan ini adalah salah satu upaya dukungan Minor thd penerbitan buku Panceg Dina Jalur : Ujungberung Rebels yg akan ditulis Kimung & Addy Gembel dan diterbitkan Minor Books 2008. Sebelumnya, Uberebels sempat bersinergi juga dgn Minor melalui sayap penerbitannya, Minor Books. Minor Books memulai debutnya dgn menerbitkan buku kumpulan cerpen karya Addy Gembel, Minor Books 14 Agustus 2004. Yang paling update dan fenomenal, tentu saja penerbitan buku Myself : Scumbag Beyond Life and Death, sebuah biografi Ivan Scumbag karya Kimung yang diterbitkan Minor Books, 11 November 2007.

Totalokal

Totalokal digagas

Pei

, Aas, dan Asmo sejak Februari 2007, sebagai manifestasi dari propaganda “Never Grow Up” yang digagas Distribute. Edisi pertamanya mengangkat judul Totalokal Listen to the Children. Totalokal punya rubrik Band Highlight,  di edisi pertama memuat review Pitfall dan wawancara Bedaxsaripohacy. Totalokal lalu memulai propaganda merchandise mereka dgn desain2 merchandise utk bayi & anak2, semua produk Parental Advisory dan Distrubute. Namun tak lama beriklan, Totalokal segera menghajar dgn Issue : “Lawan Human Trafficking” dan essay

“NGU#4 the Newsletter on Children Behalf : What’s Beyond Growing Up” yang merupakan perkenalan propaganda Never Grow Up. Totalokal#1 juga memuat sebuah hotspot seni di

Bandung

, Jendela Ide Kids Percussion dan sk8par anak, The Neverlands, di depan markas Distribute, Baranangsiang, Kosambi,

Bandung

.

Di edisi lainnya, terbit Februari 2008, Totalokal A Never Grow Up Zine hadir menyikapi tragedi AACC dan menjadi salah satu informasi yang banyak dibaca selain Minor. Totalokal menjadi salah satu propaganda penggalangan dana sekaligus media ucapan belasungkawa & pengguliran wacana mengenai subkultur “underground”.Edisi ini Totalokal jg memuat info Yayasan Adikaka, The Neverlands, wawancara bomber lokal Kiddy, essay “History of Grafitti 1960-1980”, review:D’Army, Rabies, Koil, Burgerkill, Superabundance, & buku karya Kimung, Myself Scumbag Beyond Life and Death, Minor Books, November 2007, dan reportase National Skateboarding Championship 2007, Margo City, Depok, 25 Nov 2007.

***

Iraha aya zine anyar deui atuh euy??? Asa barosen yeuh!!!//kims, drinkim_beam@yahoo.com

they got the gun but we got the number! gonna win, yea, we’ll take it over! c’mon!!!

February 22nd, 2008 by drinkim-beam

THEY GOT THE GUN BUT WE GOT THE NUMBER

Kimung

They got the gun but we got the number

Gonna win, yeah, we’ll take it over!

C’mon!

521, The Doors

Menyikapi Tragedi AACC Sabtu Kelabu 9 Februari 2008, Solidaritas Independen Bandung melakukan dua solusi, yaitu dengan cara litigasi dan non-litigasi. Litigasi berkaitan dengan hukum, sementara non-litigasi berkaitan dengan pendataan kembali kondisi sosial-budaya yang berkaitan dengan terjadinya tragedi tersebut. Saya termasuk dalam tim non-litigasi.

Ada

satu hal yang saya kritisi dalam pernyataan-pernyataan dari komunitas menyikapi Tragedi AACC. Kebanyakan pernyataan-pernyataan adalah respon yang lebih mengkonfrontasi pernyataan kepolisian dan pemerintah. Satu lagi wacana yang merebak, menuding pemerintah lalai dalam menangkap gejala global di kalangan pemuda teruatama dalam gairah musik metal di Kota

Bandung

yang ujung-ujungnya meminta fasilitas gedung kesenian kepada pemerintah.

Untuk memandang masalah ini lebih jernih, bekerja sama dengan Jurusan Sastra Jerman, saya, AddyGembel, dan UcokHomicide menggelar diskusi Si Kumis dan Begundal di Ujungberung Rebels, Nihilisme Nietzsche, Ivan Scumbag, dan Dinamika Ujungberung Rebels. Diskusi ini awalnya akan membedah dinamika komunitas Ujungberung Rebels sebagai salah satu komunitas musik metal bawahtanah tertua dan tertangguh dari perspektif filsafat nihilisme dan ubermensch-nya Nietzsche.

Satu hal yang sangat penting untuk dicatat dalam diskusi ini ternyata adalah kesadaran akan sejarah komunitas. Ujungberung Rebels tumbuh sejak akhir 1980an. Awal 1990an mereka sudah membentuk sebuah komunitas bernama Bedebah, singkatan dari Bandung Death Metal Area—walau pada kenyataannya, tak cuma anak-anak detah metal yang ikut bergabung degan mereka. Punk rock, thrash metal, death metal, grindcore, black metal, industrial dll saling berbaur. Nama Bedebah sendiri diambil dari program siaran di Radio Salam Rama Dwihasta, Taruna Parahyangan, Ujungberung. Bedebah memutar lagu-lagu Carcass, Napalm Death, Terrorizer, Deicide, Sepultura, dll ketika radio-radio lain masih menyiarkan heavy metal. Era ini ada empat band metal yang menjadi ikon Ujungberung, Funeral, Necromancy, Jasad, dan Orthodox.

Mereka menggebrak berbagai panggung di

Kota

Bandung

. dari panggung-panggung festival, hingga pensi-pensi sekolahan. Mereka minoritas tetapi sangat solid. Berbegerak dari satu panggung ke panggung yang lain bersama-sama, dengan attitude metal, dengan semangat kebersamaan. Generasi ini pula yang pertama kali membuka keran informasi mengenai permetalan dunia dengan menggencarkan pemesanan majalah metal internasional, kaos, kaset atau cd band-band metal, merekam ulang, dan memperbanyak serta menyebarkannya di kalangan mereka. Mereka juga telah berai membawakan lagu-lagu ciptaan mereka sendiri.

Apa yang telah mereka rintis menginspirasi generasi selanjutnya. Di Ujungberung, inspirasi ini menemukan wadahnya ketika Studio Palapa berdiri tahun 1993. Berdiri dua band baru, Analvomit dan Three Side of Death.Kemudian berdiri Disinherit, Sonic Torment, Sacrilegious, Forgotten, Burgerkill, Infamy, Naked Truth, Beside, Embalmed, Disinfected, Injected Sufferage,dll. Perkembangan ini kemudian diolah dalam sebuah organisasi bernama Extreme Noise Grinding (ENG). Berdiri tahun 1995, ENG merancang dua program propaganda metal Ujungberung, yaitu dengan penerbitan zine dan pergelaran musik. Zine yang kemudian berdiri adalah Revolution Programs atau kita kenal sebagai Revograms (Mei 1995), sementara pergelaran yang digeber adlah Bandung Berisik Demo Tour atau kita kenal sebagai Bandung Berisik I. Semua band yang manggung di event ini telah memiliki lagu sendiri dan merekamnya ke dalam sebuah demo. Tradisi mencipta lagu semakin kuat di sini. Majalah Hai tahun 1995 mencatat dari 10 band indie Indonesia, tiga di antaranya berasal dari Ujungberung (Jasad, Sonic Torment, Sacrilegious).

Dua propaganda terseut berhasil dengan gemilang. KOmunitas musik metal bawahtanah Ujungberung semakin menggurita. Studio Palapa yang asalnya mampu menampung para musisi muda, kini terasa semakin sempit saja. Tak lama kemudian, mereka, dengan kaos hitamnya segera memenuhi trotoar jalan raya Ujungberung. Era ini, pembelajaran komunitas akan bermusik sedang gencar dilakukan. Eksplorasi sound yang mantap, aksesoris-aksesoris instrument, hingga pembinaan kru, tehnisi, sound engineer, dan manajerial. Kita kemudian kenal nama Homeless Crew dari Ujungberung. Sebuah nama yang juga merepresentasikan menolak kemapanan dan kenyamanan. Jiwa-jiwa yang resah lahir saat ini.

Segala keresahan itu mereka tuangkan menjadi karya. Setidaknya telah ada empat belas band di Ujungberung tahun 1997. Mereka kembali berkumpul untuk menggelar Bandung Berisik II dan merencanakan rilisan kompilasi lagu-lagu band-band metal bawahtanah Ujungberung. Kompilasi ini rencananya dijuduli Ujungberung Rebels. Namun, ketika dirilis Aquarius tahun 1998, judulnya berubah menjadi Independen Rebels. Ujungberung Rebels sendiri sejak itu lekat menjadi identitas komunitas musik metal bawahtanah Ujungberung.

Komunitas ini kemudian banyak melahirkan, tak hanya band-band metal terbaik di

Indonesia

, atau mungkin di

Asia

, tetapi juga kru berkomitmen dan berkualitas tinggi. Komunitas ini perlahan namun pasti berkembang. Salah satu faktor yang menunjang perkembangan terseut adalah situasi pergelaran yang menunang berkembangnya band-band metal, terutama dengan hadirnya Generasi Muda Radio (GMR) dan Gelora Saparua sebagai tempat pergelaran musik.

Setelah berbagai masa susah dan senang, kini Ujungberung Rebels diwarnai setidaknya tiga sektor ekonomi kreatif di dalamnya, yaitu fesyen, label, dan literasi. Di ranah fesyen, Ujungberung Rebels punya MediaGraph, Chronic, Distribute, Reek, Melted, dan Scumbag Premium Throath. Di ranah label rekaman Ujungberung Rebels memiliki Pisces Records, Rottrevore Record, dan Revolt! Records. Sementara di bidang literasi ada MinorBacaanKecil, Minor Books, Totalokal, dan toko buku Omuniuum. Selain itu, ada juga ranah perekonomian lainnya seperti warnet dan sentra kuliner.

Segala pencapaian tersebut rasa-rasanya benar-benar dilakukan sendirian. Sama sekali tak ada campur tangan pihak-pihak lain selain komunitas Ujungberung Rebels sendiri secara khusus, dan Bandung Underground serta komunitas-komunitas musik metal bawahtanah luar

kota

seluruh dunia pada umumnya. Tak ada campur tangan pemerintah, lembaga pendidikan, institusi agama, kepolisian, parpol, ormas. Kita berdikari! Berdiri di atas kaki sendiri!

***

Menjadi sesuatu yang aneh jika kemudian kita sekarang meminta-minta sebuah gedung pertunjukan kepada pemerintah. Dari sejarah komunitas Ujungberung Rebels yang juga berhubungan erat dengan komunitas-komunitas independen lainnya di

Kota

Bandung

, tak pernah ada kisahnya kita meminta-minta apapun kepada pemerintah. Jangan karena sebuah tragedi, hati kita lalu lantas lembek, enggan mengakui jika ini adalah tanggung jawab kita bersama : seluruh komunitas di Kota Bandung itu sendiri. Menyalahkan pemerintah atau polisi bukanlah sebuah solusi yang bijak karena dengan demikian kita sudah mengakui adanya eksistensi lembaga-lembaga tersebut dalam perkembangan kesejarahan kita.

Maka demikian, Tragedi AACC hendaknya menjadi ajang instrospeksi diri kita sebagai komunitas. Mungkin selama ini kita lengah, terlalu egois memikirkan diri sendiri higga lupa bahwa kondisi sosial budaya kita secara tak sadar semakin membesar dan membesar dan di jalanan

sana

ribuan atau bahkan jutaan remaja menanti untuk kita raih, untuk kita ajak berkreasi, maju bersama-sama, berkembang bersama-sama. Tragedi AACC dalam halini dapat kita jadikan sebagai momentum untuk bersatu mengonsolidasikan diri masing-masing bersama kawan-kawan dalam sebuah barisan yang rapat dan kuat. Satu tujuan bersama : membesarkan komunitas. Itu omitmen yang harus tetap teguh dipegang oleh setiap individu dalam komunitas.

Untuk mendapatkan tempat pertunjukan, misalnya, sebenarnya kita bisa menggunakan kekuatan

massa

. Perkiraan kawan-kawan di Ujungberung Rebels,

massa

mereka di

Bandung

saja sudah bisa mencapai sepuluh ribu jiwa. Jika dari satu orang saja dapat menyumbang

lima

puluh ribu, berarti setidaknya jika seluruhnya ikut menyumbang akan terkumpul dana 500.000.000.

Lima

ratus juta! Ini adalah sebuah potensi yang sangat besar jika dapat dikelola dengan baik oleh pihak komunitas sendiri. Belum pihak-pihak yang saya yakin akan sangat mendukung program ini dan sedapat mungkin membantu kita merelisasikannya. Kita beli tanah lapang, rawat sebagai lapangan di kota yang juga difungsikan sebagai taman kota, youth center, pusat riset dan dokumentasi, skatepark, dan tentu saja tempat pergelaran kesenian dengan baya sewa paling rendah.

Saya yakin 700% tempat ini akan aman dan dirawat bersama oleh komunitas. Rasa memiliki mereka akan lapangan ini akan besar dan karenanya tanggung jawab mereka untuk merawat dan menjaga juga akan sangat kuat. Dan jika ini berhasil, saya kira juga dapat dijadikan percontohan pendidikan kewarganegaraan yang baik bagi warga

Bandung

pada umumnya.

Maka kini terserah kepada kita. Akan lari dari tanggung jawab telah merintis dan mengembangkan komunitas ini? Atau tetap membangkang menghajar jalanan, membantai setan yang berdiri mengangkang?

Saya? Seluruh jiwa saya ada dalam tulisan ini!

Penulis adalah editor MinorBacaanKecil

The Truth is Out There

January 2nd, 2008 by drinkim-beam

MENYENANGI BELAJAR ILMU SOSIAL

Oleh Iman Rahman A.K., S.S.

Tiga tahun mengajar ilmu sosial di tingkat dasar, lanjutan pertama, hingga lanjutan atas pertanyaan yang selalu tertuju kepada saya dari murid-murid adalah : “apakah ilmu sosial itu dan mengapa saya harus belajar ilmu sosial?” Saya dibuat terdiam, speechless, dan tak bisa menjawab pertanyaan itu di awal-awal masa mengajar saya. Saya rasa, mungkin saya sendiri belum tahu apa sebenarnya ilmu sosial dan mengapa saya mempelajarinya. Itulah pekerjaan rumah pertama saya ketika pertama kali mengajar secara profesional. Pekerjaan rumah yang lama sekali saya kerjakan, hingga kini dari jawaban utuh yang saya bayangkan, mungkin hanya potongan kecil yang sudah berhasil saya rangkaikan.

Saya masih juga belum bisa menjawab pertanyaan mengapa murid-murid saya harus belajar ilmu sosial selain jawaban klasik : “karena manusia, selain mahluk yang bersifat hablum minallah, juga bersifat hablum minannas, mahluk sosial yang diciptakan Allah SWT untuk selalu membutuhkan orang-orang yang lain. Bentuk hubungan itulah yang akan kita pelajari dalam ilmu sosial….” Namun, dalam rentang waktu tiga tahun saya perlahan belajar dari kawan-kawan sesama pengajar, juga dari murid-murid saya.

Ada

beberapa hal penting yang bisa dilakukan untuk membuat murid-murid saya, begitu mencintai pelajaran ilmu sosial.

Beberapa hal penting tersebut adalah memberikan pemahaman materi pengajaran yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari sesuai kurikulum yang ditetapkan, membuka jaringan dengan komunitas-komunitas budaya, lingkung-lingkung seni, ruang-ruang inisiatif, dan media massa untuk membuka wawasan bergaul yang kreatif bagi siswa, melatih keahlian siswa, terutama di bidang teknologi, serta membangun keberanian berpendapat dan keahlian menulis melalui praktek pembuatan media ekspresi siswa.

Pemahaman materi pengajaran yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari sesuai kurikulum mutlak diperlukan. Ini adalah salah satu upaya awal mendekatkan siswa dengan lingkungan sehingga kepekaan sosial mereka perlahan terbentuk. Untuk itu, guru harus peka dengan kondisi lingkungan di mana sekolah berada, juga peka dengan potensi setiap siswa yang ia tangani. Kepekaan guru ini akan menjembatani kebutuhan lingkungan dengan penyaluran potensi siswa dalam koridor kurikulum yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Pengajaran yang aplikatif juga akan mempermudah siswa dalam belajar. Mereka terlibat secara langsung sehingga mendapatkan kesan mendalam dalam diri mereka, juga lebih mengerti mengapa mereka harus mempelajari sebuah obyek studi dalam ilmu sosial. Pembuatan organisasi siswa di kelas yang mengelola sebuah rumah-dhuafa dari hasil shadaqah yang lalu disumbangkan adalah salah satu contohnya.

Hal kedua yang patut diperhatikan adalah membuka jaringan dengan komunitas-komunitas budaya, lingkung-lingkung seni, ruang-ruang inisiatif, dan media

massa

untuk membuka wawasan bergaul yang kreatif bagi siswa.

Bandung

sebagai pusat industri kreatif di

Indonesia

, bahkan di

Asia

, memiliki ratusan komunitas kreatif yang terbuka bagi siapapun untuk belajar mengembangkan potensi diri. Kondisi ini perlu diperkenalkan kepada siswa semenjak dini sehingga siswa mengetahui bahwa di sekitar mereka begitu banyak ruang yang baik untuk mengembangkan diri dan berbaur bersama kawan-kawan menurut minat dan bakat mereka. Menjalin hubungan dengan komunitas kreatif juga akan memperkaya wawasan guru dan pada gilirannya akan mempermudah prigram-program pendidikan yang dibuat oleh sekolah.

Hal yang tak kalah penting adalah melatih keahlian siswa di bidang teknologi. Tak dapat dipungkiri, teknologi adalah bagian dari dinamika sosial yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan siswa, juga dalam belajar. Bahkan melalui teknologi, bisa jadi mereka akan lebih senang untuk mempelajari ilmu-ilmu sosial. Pembuatan film dengan tema sosial yang dibuat dan dibintangi mereka sendiri akan membuat mereka semakin semangat belajar. Atau praktek pendokumentasian melalui teknologi foto adalah contoh yang lainnya.

Pendidikan sosial yang baik juga tidak dapat dilepaskan dari upaya membangun keberanian mengemukakan pendapat dan keahlian menulis. Keberanian dalam mengemukakan pendapat adalah hal mendasar dalam belajar. Dengan berani maka siswa akan mengeksplorasi lingkungan,obyek pengajaran, dan juga potensi dirinya sendiri secara total. Hal mendasar yang bisa dimulai adalahberani mengemukakan pendapat mereka, baik secara lisan maupun tulisan. Tentu saja keberanian tersebut harus diiringi juga dengan tanggung jawab, dalam arti jika mereka berpendapat maka harus dalam koridor yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu contoh media ekspresi yang dapat dilakukan misalnya melalui praktek pembuatan media ekspresi siswa semacam majalah dinding.

Hal-hal itulah yang kemudian saya laukan di kelas bersama murid-murid saya. Tidak selalu semua hal tersebut saya lakukan sempurna, tapi kami meluangkan banyak sekali waktu bersama dan itu sangat menyenangkan. Saya sangat menghargai waktu yang mereka berikan untuk saya, begitupun saya yakin mereka begitu meghargai waktu yang telah kami luangkan bersama untuk belajar, berbincang, membuat sesuatu bersama-sama.

Pernah saya dan murid-murid membuat sebuah proyek pendokumentasian sejarah

Bandung

melalui foto dan film dokumenter. Selama satu bulan kami turun ke lapangan untuk riset dan pengamatan. Saking aksyiknya murid-murid saya mengerjakan proyek ini, salah seorang murid, namanya

Edo

, datang kepada saya secara pribadi dan berkata : “Pak, saya jadi suka sejarah dengan mengerjakan proyek ini…” Proyek kami selesai, dipublikasikan secara luas, dan mendapat tanggapan positif dari berbagai pihak di luar sekolah. Film kami bahkan sempat diputar di sebuah event khusus

Bandung

yang digelar di sebuah pusat perbelanjaan dan diapresiasi oleh orang banyak. Sangat membanggakan bagi saya. Namun yang selalu membanggakan bagi saya, dan selalu saya rindukan sampai sekarang adalah ucapan polos

Edo

: “Pak, saya jadi suka sejarah…”

Iman R.A.K., S.S. adalah guru dan penulis.

who said there will be quiet after the storms???

January 2nd, 2008 by drinkim-beam

Who Said There will be Quiet after the Storms? Based on Myself : Scumbag Beyond Life and Death Oleh Kimung* Everything turns so disgust when I stayed at home No more shelter or anything called salvation Away from home prove I’m a real scumbag So I begin to hate all of my family Cross the line – Revolt! It’s time to – Revolt! “Revolt!”, Burgerkill, 1995 Cross the Line… Sindanglaya, siang-siang terpanas musim kemarau 1995. Kamar Eben berantakan berat. Sick of It All album Just Look Around menghajar gendang telinga ikut memeriahkan siang bolong yang panas itu. Ivan terlihat tekun menuliskan lirik. Sementara Kimung berkutat di sampingnya dengan gitar kopong kepunyaan Eben. Marlboro tak lepas-lepas dari bibir keduanya, sementara botol arak cap Orang Tua berdiri hijau anggun. Isinya tinggal setengah. “Jadi euy!” begitu teriak Ivan dengan wajah sumringah ketika akhirnya ia berhasil menyelesaikan lagunya. “Revolt!”, begitulah Ivan menjuduli itu. Lirik pertama yang ia buat untuk Burgerkill. Dan benar saja. Sepanjang tahun 1995 hingga 1999, “Revolt!” adalah sebuah ledakan. Lagu ini adalah lagu wajib Burgerkill di setiap panggung era itu. Ribuan penonton singalong berteriak seiring beat-beat ganas Burgerkill. Yang berteriak tak cuma anak hardcore, tapi juga anak-anak grunge, death metal, grindcore, hingga punk rock. Mereka meruyak ke bibir panggung ketika Ivan berteriak, “Cross the line… “, kemudian mereka bersama-sama teriak “Revolt!!!” Ivan sangat menikmati saat-saat itu. Bagi Ivan, “Revolt!” adalah proklamasi awal sosok dirinya sebagai seorang “scumbag” kepada khalayak hardcore Bandung, dan juga Indonesia. Away from home prove I’m a real scumbag! teriaknya. Namun, hingga saat itu, ia belum utuh menjelmakan sosoknya sebagai “Scumbag”. Pada corat-coret artistik di buku hariannya tahun 1995 hingga 1999, ia masih menggoreskan paraf “ Ivan BKHC” di bawah karyanya. Ivan benar-benar memproklamirkan diri sebagai ”Scumbag” ketika ia bereaksi atas munculnya ’faksi-faksi’ dalam pergerakan hardcore bawahtanah di Bandung. Ketika faksi-faksi seperti positif youth, straight edge, vegan, negative youth, dan lain-lain semakin merajalela, Ivan menjadi bingung atas orientasi hardcore yang ada di Indonesia. Baginya, hardcore sederhana saja. Sesuatu yang keras, kondisi yang sulit, dan perjuangan yang tanpa henti. Musik yang harus dimainkan sebaik mungkin, sebuah karya seumur hidup. Karya yang baik dan inspiratif akan menggugah orang dan jika seseorang sudah tergugah maka munculah pergerakan. Maka, bagi Ivan berkarya sebagus mungkin dalam musik hardcore, itulah pergerakan yang sebenarnya. Pergerakan-pergerakan yang muncul bersama musik hardcore bagi Ivan bukan sesuatu yang esensial. Itu cuma kulit saja. Permukaan. Bukan inti. Bukan core. Tapi Ivan bukan tipe reaktif yang eksplosif. Ia bereaksi dengan jahil dan tengil. Ketika orang berlomba-lomba membangun citra hardcore yang macho dan positif, Ivan menggebrak panggung dengan nama gaya ”Ivan Scumbag” dengan bandnya yang bengal ”Burgerkill Begundal Hardcore Ugal-ugalan!”. ”Da aing mah sagala dihakan, rék ngimum, ciméng, dados, hayu! Jiga wadah runtah wéh héhéhé!” Secara harfiah, scumbag memang berarti ’tempat sampah’. Ini adalah sebuah langkah yang sangat tidak populer, jika kita melihat kondisi scene hardcore saat itu. Namun, memang tak selalu keputusan populer yang biasa diambil Ivan selama hidupnya. Homeless Crew’s Revolt! Ivan, lahir di Sarijadi, Bandung, 19 April 1978, adalah sulung dari lima bersaudara, laki-laki semua. Ayah dan ibunya adalah guru. Semenjak kecil ia sudah tertarik ke pelajaran menggambar, musik, dan matematika. Ivan adalah murid yang pandai. Ia juga riang dan gampang bergaul. Walau irit bicara, ia sangat disenangi kawan-kawannya. Ivan memiliki senyum yang sangat menawan. Kelas lima sekolah dasar ia pindah ke Ujungberung dan tinggal bersama neneknya. Di sini Ivan mendapat pengajaran agama yang ketat. Ia ikut sebuah pengajian remaja Ikatan Remaja Nurul Islam. Anggota-anggotanya tidak asing bagi kita sekarang. Ada Dani—Jasad, Andris—Burgerkill, Disinfected dan Mesin Tempur, Sule—Restless, Yayan—eks-Sacrilegious, Opik, dan Engkus. Salah satu guru mengaji mereka adalah Yayat—eks-Jasad, produser Burgerkill. Setahun kemudian Ivan kembali ke Sarijadi. Ia tinggal di rumah uwak-nya, beberapa blok dari rumah orang tuanya. Masa inilah ia pertama kali mengenal musik metal. Ia bertemu drummernya yang pertama, Bebi—Beside, yang juga kawan sekelasnya. Dengan Bebi dan anak-anak SMP 12 Bandung, Ivan sempat membentuk band Cannibalism, membawakan Sepultura dan Lawnmower Deth. Ia juga menggalang pecinta grindcore di SMP 12 Bandung dan SMP 2 Bandung dalam sebuah aliansi, Corpse Grinder Foundation Bandung atau CGFB. Masa ini Ivan bersentuhan pertama kali dengan rokok, alkohol, dan kemudian pil-pil jalanan. Ivan kembali ke Ujungberung tahun 1993, ketika ia masuk SMA Ujungberung. Ia kembali bertemu kawan-kawan pengajiannya dulu, namun kini dalam atmosfer yang berbeda. Death metal sedang menggila di Ujungberung dan kawan-kawan pengajiannya dulu tak ketinggalan menggilai musik ini. Yayat, Dani, Ayi, dan Agus bahkan membentuk band, Orthodox, yang lumayan disegani. Selain Orthodox, Ujungberung awal tahun 1990an juga terkenal dengan ikon-ikon musik metal lainnya seperti Funeral, Necromancy, dan Jasad. Ujungberung juga terkenal dengan spot nongkrong, sekaligus tempat latihan legendaris, Studio Palapa milik Kang Memet, engineer terbaik masa itu. Merasakan gairah death metal yang membara, Ivan mengajak kawan-kawannya untuk membentuk band. Analvomit adalah bandnya yang pertama di Ujungberung (1994) bersama Kimung dan Yayan. Ketika Analvomit bubar, ia sempat bersession dengan Kimung, Toto, dan Dody membawakan Deicide dalam band Blasphemous Nazarene (1995), sebelum kemudian membentuk Disinherit (1995) bersama Kimung, Ferly, dan Bebi, dan kemudian Infamy (1995) bersama Aji, Toto, dan Ramdhan. Semuanya band death metal dengan corak yang cenderung satanik atau gore. Musisi favoritnya saat itu adalah Glen Benton—Deicide, Chris Barnes—Cannibal Corpse, dan Frank Mullen—Suffocation. Salah satu manifestasi yang ia bangun mengenai eksistensinya adalah jargon “Anak Tuhan Asuhan Setan” yang sering ia tulis di buku hariannya. Satanik yang penuh penghujatan namun juga kontemplatif, berpengaruh besar terhadap musikalitas Ivan, terutama terhadap kepiawaiannya merangkai lirik. Dinamika komunitas Ujungberung semakin berkembang saat itu. Banyak band baru lahir. Anak-anak yang nongkrong di Ujungberung juga semakin banyak. Ivan yang saat itu tinggal di rumah neneknya, membuka pintu lebar-lebar bagi kawan-kawannya. Segera saja rumah Kaum Kidul itu menjadi markas anak-anak Ujungberung, selain jalanan raya Ujungberung dan rumah Dani Jasad. Rumah Ivan juga yang membidani lahirnya Extreme Noise Grinding, Revograms, dan event monumental Bandung Berisik. Di tataran ideologis, rumah ini juga yang menjadi naungan anak-anak Ujungberung ketika mereka berdiskusi mengenai totalitas di musik, independensi, hingga masalah-masalah spiritual, idealisme, dan filosofi yang kontemplatif. Bisa dikatakan, Kaum Kidul, selain jalanan Ujungberung, adalah embrio awal munculnya radikalisme di komunitas Ujungberung. Masa itu, Ivan dekat dengan Dinan, Sonic Torment. Ketika Dinan menggalang komunitas Ujungberung dalam membentuk organisasi anak-anak metal Ujungberung, ENG, Ivan dengan bersemangat membantunya. Pun ketika Dinan memelopori penerbitan Revograms, sebuah fanzine anak-anak ENG, Ivan ikut serta aktif di dalamnya. Bersama, Kimung, Yayat, Dani, Gatot, dan Sule, Ivan adalah tim redaksi Revograms edisi pertama. Masa ini juga menandai awal gaya hidup Ivan yang flamboyan dan bohemi. Dengan kawan-kawannya sesama musisi, Ivan mulai lebih sering meluangkan waktu di jalanan. Mengobrol banyak hal, diskusi hingga larut malam, menggoda cewek, merokok, mabok, hingga akhirnya tidur di jalanan. Gaya hidup itu berlangsung terus dan pengikutnya semakin bertambah setiap saat. Belakangan, Ivan, Kimung, dan Addy Gembel menamai “genk” anak-anak Ujungberung tersebut sebagai Homeless Crew. Homeless Crew adalah sebuah penghargaan bagi kru yang mendukung panggung band-band Ujungberung. Kenyataannya tak ada yang benar-benar kru saat itu. Semua adalah para pemain band yang saling belajar dari kawan-kawannya dalam mengeset sebuah gig. Karena gaya hidup para kru yang jalanan banget, Ivan menamai mereka Homeless Crew. Nama ini juga plesetan jahil Ivan menertawakan tren yang merebak saat itu di kalangan anak-anak hardcore : menambahkan kata “hardcore” di belakang nama bandnya, kemudian diinisialkan. Misalnya ada band Anak Baonk. Maka Anak Baonk akan menambahkan kata hardcore di belakang namanya, kemudian menyingkat diri jadi ABHC. Ivan sempat menjahili tren itu dengan menyebutkan bandnya sebagai Burgerkill Hardcore Ugal-ugalan tapi tetap menyingkatnya jadi BKHC. Tapi kini ia butuh sesuatu yang lebih “ugal-ugalan” untuk mengganti singkatan dari HC. Homeless Crew kemudian benar-benar menggantikan HC hardcore di belakang Burgerkill. Homeless Crew bagi Ivan juga adalah sebuah representasi gaya hidup Burgerkill dan kru Ujungberung yang menolak untuk “berumah”. Simbol penolakan untuk tinggal dalam satu taraf kemapanan lalu tenggelam di dalamnya. Di titik lain, Homeless Crew juga merepresentasikan kondisi kesadaran komunitas musik bawahtanah Ujungberung bahwa mereka tidak punya apa-apa. Segala yang ada dan melekat dalam tubuh setiap individu adalah bukan apa-apa. Dalam taraf ini, Homeless Crew menegaskan kenyamanan jiwa yang bebas berekspresi atau melakukan apapun dari kungkungan tubuh sebagai ‘rumah’nya. Awak mah bangké! teriak mereka. Hitheroad and never stop! Dengan semangat yang semakin menggila Ivan dan Burgerkill—kala itu Eben, Ivan, Kimung, Toto—menghajar puluhan gigs pergelaran musik bawahtanah sepanjang tahun-tahun pertengahan 1990an hingga tahun 2000. Tahun 1996, Burgerkill ikut serta sebuah proyek kompilasi 401204 Records yang digawangi Richard, Helvi, dan kru Reverse Studio. Album kompilasinya tersebut ditajuki Masaindahbangetsekalipisan. Burgerkill mendapat kehormatan besar. ”Revolt!” adalah lagu pertama dalam kompilasi ini. Ivan adalah orang yang paling bangga dengan rilisan kompilasi tersebut. Ke mana pun ia pergi, CD Masaindahbangetsekalipisan selalu ia bawa dan distel di mana pun ia singgah. Sementara ”Revolt!” dirilis 401204 Records, dua lagu Burgerkill lainnya, ”Myself” dan ”Offered Sux!” dirilis oleh Manifest Record yang digawangi Aris, Deadly Ground, dalam album kompilasi Breathless tahun 1996. Tahun 1997 Ivan sempat kuliah di Jurusan Editing, Fakultas Sastra, Unpad. Ia senang kembali sekolah dan mendapatkan kawan-kawan baru. Di kampus ia segera mendapatkan banyak kawan. Bersama Manik Laluna dan tujuh orang kawannya yang lain Ivan sempat membentuk genk ATB, singkatan dari Anak Tak Berbudaya. Pada saat yang sama, di Ujungberung, Ivan kembali membuka pintu rumah tinggalnya lebar-lebar bagi anak-anak ENG karena saat itu mereka sedang merencakan gebrakan metal bawahtanah Ujungberung selanjutnya : Bandung Berisik II dan album kompilasi Ujungberung Rebels. Ketika Bandung Berisik II sukses dan proyek kompilasi segera dimulai, Ivan dan Burgerkill sedang memantapkan beberapa lagu terbaru mereka yang kelak menjadi lagu-lagu monumental Burgerkill. Masa ini, Burgerkill menciptakan ”Blank Proudness”, ”Rendah”, dan ”Sakit Jiwa”.Lagu yang kemudian direkam Burgerkill dan dimasukan ke dalam kompilasi Ujungberung Rebels adalah ”Blank Proudness”. Ivan sangat bangga akan kompilasi Ujungberung Rebels—kemudian dirilis dengan judul Independen Rebels, Musica, 1998. Ia juga aktif membantu Yayat mengurus Rebellion, distro yang dibangun Yayat dari keuntungan Independen Rebels. Rebellion menampung barang-barang kreasi anak-anak Ujungberung Rebels. Ivan sempat tinggal beberap alam di Rebellion. Ia membaca Sayap-Sayap Patah-nya Kahlil Gibran, menggambar, dan menulis. Ia juga belajar menyablon dan mendesain kaos dari kakak Yayat, Kang Koeple. Desain awal Ivan terdapat di kaos-kaos produksi Rebellion : Burgerkill’s Every Mother’s Nightmare dan kaos kru Rebellion, bertuliskan Drink Togetha’ Rock Togetha’, Always be My Brotha’. Di saat yang bersamaan, Burgerkill juga mulai masuk studio dan merekam lagu-lagu mereka. Album Burgerkill yang pertama Dua Sisi akhirnya rilis tahun 2000 di bawah bendera Riotic Records. Namun Dua Sisi harus dibayar mahal dengan hengkangnya Kimung dari Burgerkill akibat tindakan indisipliner dan masalahnya dengan drugs. Ditinggal Kimung membuat Ivan uring-uringan. “Kapan Dua Sisi teh antara urang-si Kimung jeung Eben-si Toto. Mun euweuh si Kimung atuh lain Dua Sisi! ” gerundel Ivan. Dua Sisis memang merepresentasikan dua kubu ‘terang’ dan ‘kelam’ di dalam Bugerkill. Kubu terang diwakili Eben dan Toto, sementara kubu ‘kelam’ diwakili Ivan danToto. Buregrkill adalah band yang secara eksplisit menyebutkan bahwa terang dan kelam bukan lawan, namun konsep yang harus disinergikan demi hasil yang total dan maksimal. Masa-masa selanjutnya adalah masa-masa paling kelam dalam kehidupan Ivan. Ia tenggelam dalam drugs dan alkohol, berkeliaran di mana-mana : Jatinangor-Dago-Purnawarman-Rajawali-Padalarang, hingga akhirnya ketika lelah itu menyergapnya, Ivan kembali ke rumahnya : Ujungberung. Tahun 2001 dan 2002, Ivan semakin sering tinggal di Ujungberung. Ia kembali tinggal di Kaum Kidul, di kamar yang sama ia pertama kali tinmggal di sana. Kini, kamarnya tak seramai dulu. Ivan mulai menatanya labih nyaman, lebih hangat. Kita akan semakin betah tinggal di dalamnya. Masa ini, Ivan mulai menuliskan lirik-lirik lagu baru. Kecenderungan penulisan lirik yang ia rintis melalui “Revolt!”, kemudian “Rendah”, dan “Sakit Jiwa” semakin berkembang. Lirik-liriknya berkembang sangat sarkas, tapi tidak ia tunjukan ke luar, namun ke relung-relung terjauh dalam diriya. Ivan memulai pengembaraan panjang lain menuju ke dalam dirinya sendiri. Sebuah fase psikedelik, karena saat itu Ivan juga masih menggunakan drugs. Pengaruh grunge—Ivan sangat mengidolakan Kurt Cobain dan Eddie Vedder—juga nampak, terutama dalam ambiguitas lirik, setajam, seeksplisit, dan se-straight apapun Ivan mengemas liriknya tersebut. Di album ini,cita-cita Ivan untuk berduet dengan musisi favoritnya Fadly, Padi, tercapai. Ivan bersession dengan Fadly dalam lagu “Tiga Titik Hitam”. Lagu yang juga mengantar Burgerkill ke ranah permainan paling jauh bagi band underground : major label. Burgerkill sign kontrak dengan Sony Music Indonesia tahun 2003 dan merilis Berkarat di bawah bendera label besar itu. “Sarua wéh jeung gawé, urang mah ngarasana. Manéh dikontrak ku Sony keur genep albumeun. Mun misalna saalbum satauneun berarti genep tauneun manéh di kontrak ku hiji perusahaan keur gawé ka manéhna. Sarua wé jeung manéh dikontrak gawé genep tauneun di hiji perusahaan. Éta hiji léngkah gedé. Nya keur urang, nya keur si BK..Urang nyadar urang kudu nyiapkeun sagalana sahadé-hadéna.” Ivan bercerita. Ivan dan juga para personil Burgerkill melihat sebuah peluang yang patut dijajal. Sebuah peluang yang baik untuk mempelajari banyak hal, terutama mengenai produksi sebuah rekaman, distribusi, hingga faktor-faktor lain yang biasanya luput diperhatikan oleh orang-orang kebanyakan, dan tentunya peluang untuk ekspansi musik Burgerkill ke dalam wilayah yang lebih luas. Mungkin sebuah utopis, tapi sesuatu akan tetap menjadi utopia jika kita hanya diam dan bermain-main di tataran itu-itu saja tanpa berani menjajal tataran lain di luar diri kita, di luar komunitas kita, di luar lingkungan kita. Pemikirannya yang lain, dengan bekerja sama dengan label besar, ia mengharapkan akan terjadi perbaikan dalam kehidupannya, terutama di ranah perekonomian. Ivan sangat mengharapkan, dengan kerja sama ini pendapatannya akan naik dan ia akan semakin mantap berjalan di jalur musik, jalur yang selalu ia junjung tinggi dan cita-citakan. “Aing mah rék meuli imah nu gedé, ngarah bisa nampung barudak kabéh, meuli mobil nu gedé, ngarah bisa ngajak barudak kabéh ulin ka mana-mana!” angan-angan Ivan saat ia membayangkan penghasilannya tentu akan naik seiring kerja samanya dengan Sony. Naif memang, namun begitu jujur. Ivan tak ambil pusing ketika begitu banyak media yag menyidir akan langkah Burgerkill—dan Ivan yag (lagi-lagi tidak populer). “Emang saha marenehna ngomong nu lain-lain tentang urang? So’ tau. Emang maranehna nu nanggung hirup aing?” katanya selalu. Dan Berkarat memang prestisius. Album ini banyak mendapatkan pujian dari kritikus musik dan puncaknya adalah sebuah penghargaan dari blantika musik Indonesia sebagai Best Metal Production Anugerah Musik Indonesia 2004. Ivan sangat bangga dengan pencapaian itu. Bagi Ivan, ini adalah sebuah pembuktian totalitas dan komitmennya yang tinggi untuk berjalan di jalur musik. Ini membuat semangatnya semakin menyala. Ivan dan Burgerkill kembali membuktikan totalitas dan komitmen mereka bersama lewat Burgerkill Hellshow “A Give Back” 10th Anniversary 1995 – 2005. Ribuan fans dan kawan-kawan Burgerkill dari berbagai daerah datang dan berteriak bersama Ivan di ulangtahun Burgerkill ke-10 itu. Dengan segala euphoria itu, sempat terbit keinginan Ivan untuk menuliskan sebuah buku mengenai sejarah Burgerkill dan buku lirik-liriknya. Ia juga terinsipirasi buku kumpulan cerpen Tiga Angka Enam karya kawan karibnya, Addy Gembel, Forgotten. Ivan sempat mengobrol panjang dengan Kimung dan mereka sepakat untuk menuliskan buku itu berdua. Ivan yang membuat kerangka, Kimung yang mengolahnya menjadi sebuah narasi. Kimung juga menyanggupi menerbitkan karya Ivan melalui Minor Books. Namun setelah Hellshow dan sepanjang 2005, Ivan semakin sibuk dengan album terbaru Burgerkill. Masalah kesehatan juga merundung Ivan. Dadanya sering sesak dan ia sering batuk berkepanjangan. Ivan juga semakin sulit tidur dan ia sudah mulai sering merasa sakit kepala. Masalah kesehatan juga mengganggunya dalam berkerya. Dengan berbagai rongrongan tersebut, Ivan sering merasa kesulitan dalam menulis lirik. Sering kali, akibat Ivan mandeg, Eben terpaksa menculik Ivan untuk begadang bersamanya, memantapkan lagu. Stok lagu Burgerkill saat itu sudah lumayan banyak dan Ivan harus segera mengisikan pola vokalnya di lagu-lagu tersebut. Belum juga Ivan benar-benar pulih dari gangguan kesehatan, cobaan lain datang menerpa Burgerkill. Band ini memutuskan untuk hengkang dari Sony Music Indonesia karena mereka merasa kecewa dengan label tersebut. Mulai dari jadwal rekaman yang dimundur-mundurkan hingga anggaran rekaman yang tidak masuk akal. Akhirnya, November 2005, Burgerkill cabut dari Sony. Bersama, para personil Burgerkill dan kru berkumpul dan kembali mengucapkan komitmen bersama untuk berjalan sendirian. Komitmen itu juga pada kelanjutannya menegaskan kedisiplinan, toleransi, dan tanggung jawab yang kuat terhadap segala langkah yang akan ditempuh. Ini adalah fase pendewasaan buat Ivan. Kondisi ini sangat menyentil sendtimentalitas Ivan untuk bangkit. Dalam beberapa catatannya ia sering menuliskan kata-kata “reborn” dan “back to the street”. Agaknya Ivan mempersiapkan dirinya utuk kembali ke semangat yang sama ketika ia membangun Homeless Crew dan Ujungberung Rebels di jalanan. Ia membuat sebuah perusahaan pakaian, Scumbag Premium Throath bersama sang kekasih, Mery dan merencanakan untuk menikah bulan Desember 2006. Sayang, kedewasaan ini tidak ditunjang dengan kondisi tubuh yang sehat. Beban mental dari perubahan ini tak tertanggungkan tubuh Ivan yang ringkih. Komitmennya telah teruji. Ia mematuhi ‘ikrar’ bersama Burgerkill. Ia membereskan rekaman dengan hasiol yang maksimal, bahkan di saat-saat terlemah dirinya. Keingkihan tubuhnya bagaikan semakin membiaskan semangat ang menyala-nyala hebat dalam dirinya. Beyond Coma & Despair rilis 20 Agustus 2007 tiga minggu setelah Ivan meninggal akibat radang otak, Legacy Lives On and On… Setelah launching party Beyond Coma and Despair Burgerkill melakukan tur Jawa dan bali. Sebuah fase bermusik yang selalu dirindukan Ivan. Setelah itu, Burgerkill yang mulai bangkit dari schock Ivan, menyeleksi puluhan calon vokalis. Kini Vicky berdiri garang di barisan Burgerkill memegang panji-panji yang sempat diusung Ivan. Namun, itu adlah sebuah perjalanan panjang. Jauh sebelumnya, Eben sempat uring-uringan : “Bubarkeun wae kitu si Burgerkill teh?” Tapi bukan itu yang diingini Ivan. ia telah berkorban segalanya untuk melihat band ini sukses—bukan bubar. Maka jalanan harus terus dihajar dan BUrgerkill harus tetap digarda terdepan. Berhenti berarti mati! Tahun 2007, Beyond Coma and Despair, album biografis, hidup matinya Ivan, masuk sebagai 20 album terbaik tahun 2006 versi majalah Rolling Stone. Album ini juga masuk ke daftar rilisan terbaik tahun 2006 Ripple Magz. Tahun ini album ini juga masuk 150 album sepanjang masa majalah Rolling Stone. Sementara perusahaan pakianyang Ivan rintis, Scumbag Premium Throath, juga tidak pada. Perusahaan pakaian ini kini ditangai sang adik sebagai bisnis keluarga. Mana kata siapa hanya akan ada kesunyian setelah badai berakhir? Ivan mungkin kini telah tiada, namun kata siapa yang tiada benar-benar menghilang? Ivan tetap hidup. kita bisa merasakan semangatnya dalam sepak terjang dan dobrakan-dobrakan Burgerkill, Scumbag Premium Throath, Homeless Crew, Ujungberung Rebels dan ribuan lainnya yang selama hidupnya terinspirasi darinya. Teriakannya tetap menggema di sudut-sudut kota di mana suaranya didengarkan dan tetap hidup dalamjiwa generasi-generasi muda yang kelak akan menjadi ‘ivan-ivan’ baru bagi perkembangan scene musik bawahtanah Indonesia tercinta. All hair Scumbag! All hail Scumbag! All hail Scumbag! *Penulis buku Myself : Scumbag Beyond Life and Death

beyond editorial myself : scumbag beyond life and death, menyentil masalah penyuntingan, oleh Yusandi

November 6th, 2007 by drinkim-beam

Beyond Editorial :

Menyentil Masalah Penyuntingan dalam Novel

Myself : Scumbag Beyond Life and Death

oleh YusandiOjel

Tatkala ditawari Penulis untuk menyunting naskah buku ini, saya sedikit kaget. Bagaimana tidak? Saya bukan penggemar Burgerkill—musik mereka dan teriakan Ivan terlalu cadas dan memekakkan bagi gendang kuping saya! Tapi, dengan mengesampingkan itu, saya merasa tertantang dan bersemangat. Menurut hemat saya: ini adalah buku “biografi” pertama band lokal bawahtanah yang pernah ditulis di

Indonesia

(entah kalau sudah ada buku sejenis sebelumnya yang tak saya ketahui).

Saya kenal Ivan di Purnawarman, sekitar 1999. Tapi hingga kematiannya saya tak merasa begitu dekat dengannya, tak seperti “tokoh-tokoh” yang berperan dalam buku yang kini berada di hadapan anda, yang cukup intim dengan Almarhum. Namun, toh, yang diperlukan dalam menyunting terutama adalah masalah kebahasaan, bukan masalah musikalitas (musik ‘

kan

buat didengarkan, bukan diperdebatkan, ya,

kan

?).

Jujur saja, bahwa yang membikin saya menyanggupi mengedit buku ini adalah pertemanan saya dengan Penulis, bukan karena ketenaran Ivan dan Burgerkill. Kimung merupakan teman yang berwawasan luas, seorang penulis yang haibat dengan

gaya

tulis yang berkarakter. Dengannya, saya bisa berjam-jam berbincang tentang masalah apa pun—dari musik, sejarah, budaya, filsafat, sastra, agama, dll. Apalagi jika mengingat bahwa ia salah satu pendiri Burgerkill, yang tentunya sangat paham akan “sejarah” Ivan dan band yang dibangunnya. Dan ini: Penulis merupakan sahabat dekat Sang Vokalis sejak mereka masih “ababil” alias ABG labil. Penulis adalah seorang perawi yang kesahihannya lebih dapat dipertanggungjawabkan di hadapan khalayak pembaca. Juga, saya melihat semangat serta pengorbanannya yang tinggi dalam menyusun buku ini.

Saya percaya—seperti diakui Penulis—bahwa tak semua teks cerita dan percakapan langsung yang tertulis dalam buku ini berlangsung seperti yang terjadi sesungguhnya. Mereka yang “bercerita” dan “mengobrol” tentang dan dengan Ivan, memparafrasakan kembali pengalaman mereka. Ingatan merekalah yang membangun kisah-kisah buku ini (selain data-data tertulis dan rekaman suara); dan ingatan manusia bukanlah sesuatu yang seterusnya terang. Apalagi kebanyakan dari mereka—seperti halnya Ivan sendiri—sama-sama pengguna drugs, yang memorinya dapat dipastikan tak sepenuhnya mantap. Jadinya, Penulis dan juga mereka yang diwawancara, memakai kalimat mereka sendiri dalam menyampaikan kenangan-kenangannya bersama Sang Scumbag. Dan itu sah-sah.

Saya memulai penyuntingan pada 26 Juni 2007, tiga hari setelah menerimanya. Ketika menyerahkan naskah pertama, Kimung berkata, “Babat aja!” Dan dengan wewenang tersebut saya memang ternyata lumayan banyak membabatnya. Banyak pengulangan narasi dan deskripsi yang saya buang, dan terutama saya sering menyempurnakan tanda baca pada kalimat-kalimat langsung.

Ada

beberapa masalah yang perlu disampaikan di sini, yakni masalah peristilahan, terutama penulisan jargon dan genre (orang

Indonesia

menyebutnya “aliran”) musik. Sebutlah grindcore, hardcore, punk rock, riff, scene, lead. Saya dan Penulis sempat kebingungan, mana kata yang harus dimiringkan, mana yang tidak; mana frasa yang harus disatukan, mana yang tidak. Kita—orang

Indonesia

—sayangnya belum memiliki kata padanan untuk kata-kata tersebut. Untuk istilah underground kami memutuskan menerjemahkannya menjadi “bawahtanah”, bukan “bawah tanah”. Ya, kami menyatukannya menjadi sebuah kata mandiri, semandiri para pelakunya dalam bergerilya memperjuangkan idealisme mereka dalam bermusik. Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan 2005, misalnya, belum juga mencantumkan kata padanan atau serapan untuk istilah-istilah tersebut. Ini memperlihatkan secara jelas bahwa Pemerintah dan ahli-ahli bahasa tak penuh perhatian terhadap perkembangan budaya anak muda secara global!

Belum lagi kata-kata “gaul-slengean” dan “bahasa Sunda jalanan” (bahkan beberapa berbentuk “bahasa kode” yang hanya dimengerti oleh komunitas bersangkutan) yang memenuhi percakapan-percakapan dan narasi dalam buku ini. Kata “gua” atau “nggak” belum juga dianggap sebagai bagian dari “bahasa Indonesia” oleh Pemerintah. Saya jadinya bertanya-tanya: apakah Pemerintah benar-benar telah belajar dari era Balai Pustaka buatan kolonial Hindia Belanda yang mengagungkan “Melayu Tinggi” yang dipakai para penulis Melayu-Riau dan merendahkan “Melayu Pasar” yang digunakan oleh rakyat kebanyakan di

Batavia

? Bukankah lingua franca yang dijadikan “bahasa Indonesia” berasal dari para pedagang-pelaut yang notabene rakyat jelata yang tak semuanya pandai tulis-baca (baik Cina, India, Arab, Parsi, atau Pribumi), bukan dari kalangan sultan dan brahmana?

Ah, maaf, saya sudah terlalu banyak bicara. Selamat membaca saja! Bagi pembaca yang masih berusia belasan atau berjiwa remaja yang labil secara emosional, harap ingat: buku adalah salah satu bentuk sugesti yang terbesar dalam memandang, merespon, dan menyikapi hidup. Jadilah pembaca yang arif!

Bandung

, 23 Agustus 2007

Yusandi alias Ojel adalah musisi, pemimpin Hitheroad Publishing,

penyunting Myself : Scumbag Beyond Life and Death

Di Balik Penulisan Buku Myself : Scumbag Beyond Life and Death…

November 2nd, 2007 by drinkim-beam

Di Balik Penulisan Novel
Myself : Scumbag Beyond Life and Death

Oleh Kimung

I
Maret 2005, ketika itu Minor Books baru merintis penerbitan buku dengan debutnya Tiga Angka Enam karya Addy Gembel.. Untuk itu, saya meminta bantuan Ivan menggoreskan ilustrasi-ilustrasinya bagi cerpen-cerpen Addy Gembel. Ivan dipilih karena saya tau banget kalau karya-karya freehandnya pol! Selain itu, ia kawan Gembel sejak abg dan tau banget karakter Gembel. Ivan tak menyanggupi, karena saat itu ia sedang sibuk menggarap Beyond Coma and Despair. Tapi tak juga menolak. Ia bilang akan mencobanya dan baru menyelesaikan satu rancangan untuk cerpen “Republik Bintang Tengkorak”. Ketika Ivan memang tak bisa menyelesaikan ilustrasi-ilustrasinya, lini ilustrasi untuk Tiga Angka Enam langsung ditangani Bob-Yudo—sang penggila freehand dan desain gothic—yang gambarnya tak kalah mantap. Ivan memang tak jadi bekerja sama, namun selama proses penggarapan Tiga Angka Enam, saya melihat minatnya yang besar di bidang penulisan dan penerbitan.
Ia memelihara harapan besar untuk menuliskan sebuah buku mengenai lirik-lirik yang ia buat. Mirip buku lirik The Beatles : lirik dimuat, lantas ada keterangan siapa yang bikin, kapan, pas dalam kondisi gimana, nyeritain apa, dll. Pada kelanjutannya, seiring dengan percakapan kami di kamar Ivan-Mery dikawani minuman-minuman ringan dan musik-musik keras, ide itu berkembang semakin liar. Ivan ingin menuliskan sejarah Burgerkill, band yang telah membesarkannya, membesarkan komunitas Ujungberung Rebels, semakin mengangkat nama Bandung sebagai barometer musik Indonesia, sekaligus band metal pertama yang menjebol label besar, kemudian berani meninggalkan label raksasa itu demi mengejar idealismenya yang semakin menggebu, serta seabrek pencapaian yang baginya sendiri-dan juga jelas buat kita-sangat fenomenal.
Untuk itu, Ivan meminta saya membantunya dalam proses penulisan sejarah Burgerkill. Saya menyanggupinya. Dan sepertinya, Ivan sangat serius dengan ambisinya. Dalam beberapa buku catatan hariannya, ia menuliskan corat-coret kerangka utama sejarah Burgerkill yang akan ia tuliskan. Saya sendiri sangat percaya akan kepandaian Ivan dalam menyusun sebuah rancangan naskah. Karenanya, saya memutuskan untuk menunggu Ivan menyelesaikan rancangannya sebelum kepenulisan buku itu digarap bersama-sama. Namun, cita-cita adalah cita-cita. Belum selesai Ivan merampungkan rancangannya, ia keburu dipanggil oleh-Nya. Saya sangat terpukul. Saya merasakan ada satu hal di antara kami yang belum usai. Maka, di detik-detik terakhir hidup Ivan, saya membisikkan sebuah janji di telinga Ivan :”Van, ku aing béréskeun kahayang manéh! Ku aing tuliskeun biografi si Bé-Ka téh! Ku sorangan Van! Manéh boga lakonna!”
Maka inilah janji itu. Sebuah biografi Ivan, Myself : Scumbag Beyond Life and Death. Saya begitu lelah mengerjakannya. Tapi saya juga begitu ngotot menyelesaikannya sampai saya tidak peduli dengan letih itu. Mungkin karena sebenarnya saya tidak sendiri mengerjakannya. Saya dibantu Ivan ‘dari sana’ dalam menuangkan segala kisah dalam biografi ini.

II
November 2006. Bangkit dari shock akibat meninggalnya Ivan ternyata tak segampang yang saya kira. Tak ada yang mudah menyadari orang yang sangat dekat dengan kita telah tiada. Berat dan menyakitkan. Di atas segalanya, mengumpulkan keberanian dalam menuliskan biografi ini adalah proses paling berat yang saya rasakan. Betapa tidak, tokoh yang saya tulis adalah kawan saya, saudara di jalanan yang membangun sebuah komunitas dan scene bersama-sama, sekaligus orang besar yang tetap membumi di tengah kebesarannya. Kami memiliki begitu banyak kenangan terbaik dan terburuk bersama yang kadang begitu sulit saya ungkapkan. Kisah hidupnya yang keras membuat miris dan kadang saya tak berani berempati kepadanya.
Namun saya ngotot. Maka semua berkas yang saya kumpulkan beberapa hari setelah Ivan meninggal dari Mery dan Jimbo mulai saya telaah. Sekali lagi ini bukan sebuah pekerjaan yang gampang karena ketika membaca kata-demi kata dalam syair, puisi, atau goresan gambarnya, Ivan bagai mau menyeret saya agar ikut merasakan betapa gila emosi sepanjang hidupnya. Dan betapa emosi ini menyiksanya seumur hidup, Tapi di sisi lain, mengangkat derajatnya sebagai seniman papan atas karena justru yang emosional inilah curahan hidupnya, kejujuran, dan ekspresi dirinya. Saya juga membongkar kembali dus-dus berisi foto-foto dan buku-buku harian tebal yang sering kami—saya, Ivan dan kawan-kawan Ujungberung Rebels—tulisi bersama sejak masa putih abu hingga tahun 2001an.
Januari 2007 saya mulai menulis. Awalnya saya targetkan terbit April untuk mengejar ulang tahun Ivan tanggal 19 hingga buku yang bagi saya personal ini semakin personal. Tapi sekali lagi, bukan hal mudah meyelami gejolak jiwa Ivan. Saya jadi banyak sakit sendiri dan terbawa-bawa emosional dalam menuliskannya. Kadang saya berhenti di tengah penulisan yang bergejolak dengan napas terengah-engah lelah, atau tanpa sadar air mata menetes. Saat itulah saya harus berhenti. Biasanya saya pergi ke gunung dulu sebelum kembali dapat mengumpulkan energi, keberanian, kengototan saya. Terima kasih kepada kawan-kawan yang mendampingi saya kemping selama penulisan buku ini.
Buku ini awalnya saya rancang tujuh bab. Pada kelanjutannya satu bab berjudul ”Jatinangor Blues, Purnawarman Fever” saya pecah menjadi tiga bab : “Tattoed Everything”, mengisahkan meninggalnya ayah Ivan, “Jatinangor Blues, Dua Sisi”, mengisahkan masa kuliah Ivan dan album Dua Sisi, dan “Purnawarman Fever”, mengisahkan Ivan ketika di Purnawarman. Pemecahan ini karena saya rasakan kurangnya eksplanasi histories dan pendekatan psikologis yang saya bangun sehingga hasil penulisan terasa datar. Saya juga kemudian menambahkan satu bab pendek sebagai penutup. Bagian yang sulit dari buku ini adalah menuliskan bab pertama, bab “Berkarat”, “Beyond Coma and Despair”, dan “The End”. Hal ini karena sulitnya saya berempati atas gaya hidup Ivan yang tidak jelas, penuh diwarnai gejolak emosi yang tidak stabil, penggunaan drugs yang berlebihan, serta penyakit yang mendera tubuh dan jiwanya. Namun di atas segalanya, bagian tersulit dalam penulisan buku ini adalah bagian “The End” yang mengisahkan awal jatuhnya kondisi Ivan hingga ia meninggal. Bab ini tak sebanyak bab-bab yang lain tapi melibatkan emosi yang dalam di jiwa saya. Sering saya tak kuat dan berhenti menulis. Lalu saya teruskan lagi sedikit, lalu berhenti lagi. Lebih dari dua bulan saya bereskan bab ini, walau Mery yang berada di samping Ivan selama masa ini hingga akhir hidupnya, begitu banyak membantu saya, bahkan menuliskan kesan-kesannya agar saya jauh lebih mudah mengolah kata-kata. Kendala saya adalah saya tak sanggup menggambarkan kesakitan Ivan dengan kata-kata. Sepertinya tak ada kata-kata yang dapat mewakili perasaan Ivan dan saya mentok. Saya yang semakin tak sangggup akhirnya hanya mengcopy-pastekan saja tulisan Mery. Dan itu menurut saya lebih mewakili semua tulisan yang saya rangkai. Bab lain yang tak kalah sulit adalah bab pertama. Bab ini baru selesai saya tulis setelah dummy pertama beres diedit oleh Ojel, editor saya. Saya menulisnya secara spontan dalam waktu kurang dari setengah jam. Saya tak mau mengulang-ulang lagi dan hasil tulisan saya untuk bab satu tak pernah saya lihat lagi. Saya, dalam hal ini percaya sebuah spontanitas. Begitu pula bab terakhir. Saya menuliskannya lebih singkat. Mungkin hanya sepuluh menit, ketika semua bab telah usai dilayout oleh Popup. Sekali lagi, saya percaya dengan spontanitas.

III
25 Agustus 2007 naskah sebetulnya sudah beres dan karenanya, saya, Popup, dan Ojel memutuskan untuk liburan ke Kutoarjo dan Jogja sambil menghadiri pernikahan BobYudo&Monik-forever partner dan sahabat terbaik Mino. Pikir kami sekalian liat-liat kondisi di Kutoarjo-Jogja, sekalian promo dan buka jaringan distribusi. Sepanjang perjalanan saya baca buku Heavier Than Heaven, biografinya Kurt Cobaim dan saya membandingkan dengan biografi Ivan. Wah! pikir saya. ternyata banyak hal lolos dalam penulisan biografi Ivan. Saya memutuskan untuk kembali menggarap naskah sepulang tur Kutoarjo-Jogja. Selama dua minggu saya tak keluar rumah. Konsentrasi penuh pada revisi hingga akhirnya beres dan saya kembali menghubungi Popup untuk segera melayout naskah terbaru. Untunglah Pak Dosen Popup punya kelihaian yang mumpuni. Dengan cepat ia membereskan layout. Namun dasar saya! Ada saja yang saya robah hingga tata letak penuh footnote yang sangat menyulitkan itu berkali-kali robah pula.
Akhirnya, proses layout yang lumayan panjang selesai tanggal 29, 30 September, serta 1 Oktober 2007. Beberapa minggu sebelum layout selesai, Gustaff yang saya minta menuliskan “Afterwor(l)d” untuk buku ini mengirimkan tulisannya dan itu menjadi cambuk buat saya dan kawan-kawan untuk segera membereskan buku ini. Gustaff bukan orang baru dalam proses penyusunan buku ini. Beberapa minggu setelah meninggalnya Ivan dan ucapan ikrar saya untuk menuliskan kisah hidupnya, saya menemui Gustaff di Commonroom. Kepadanya saya mengutarakan niat itu. Bisa dikatakan ia termasuk orang pertama yang tahu akan niatan saya, selain istri saya, anak saya, Mery, Jimbo, Eben dan Burgerkill yang lain, Yayat, Addy Gembel, serta Deni dari Lawangbuku. Gustaff sangat mendukung. Dukungannya memacu saya, membesarkan semangat saya. Dan saya sangat berterima kasih atas itu. Karenanya, saya lalu memutuskan untuk memberikan penghormatan kepada Gustaff untuk menuliskan sepatah kata dalam buku Myself : Scumbag….
Asalnya saya akan meminta sahabat saya Addy Gembel untuk menuliskan kata-kata di “Afterwor(l)d”, namun sepertinya ada beberapa ketidaksesuaian mengenai visi mendasar dalam penulisan buku sejarah ini. Saya terpukul dengan pernyataannya yang dimuat secara luas di Majalah Ripple mengenai komersialisasi Ivan atau pendewaan yang berlebihan. Tidak, Dy! Sama sekali ini bukan komersialisasi atau pemitosan. Bagi saya ini personal. Entah bagi Addy yang memandang dari sisi sosialis atau kapitalis atau paham-paham yang sama sekali tidak saya mengerti. Sempat saya akan membalas tulisan sahabat saya tersebut, namun saya kira energi saya terlalu kecil dan akan habis jika saya menggulung-gulung hal-hal yang itu-itu saja. Maka saya segera melupakan kekecewaan saya dan memulai proses menulis. Biarlah waktu yang akan menjawabnya. Lagi pula, ketika saya pikirkan matang-matang dan positif, ternyata kritikan dari Addy lalu menjadi dasar pemikiran penerbitan buku ini : keluar dari sisi komersialisasi yang kini marak meruak di ranah penerbitan dan menghancurkan ideologi serta idealisme seorang penulis dalam menulis. Saya lalu memandang kritikan itu sebagai rasa sayang seorang sahabat kepada sahabat lainnya, atau kekecewaan mendalam dan rasa rindu atas sebuah kehilangan seorang sahabat. Tiba-tiba, saya merasa semakin dekat dengan Addy Gembel…
Sementara itu, untuk cover buku, awalnya saya memiliki beberapa opsi. Akan diambil dari artwork Ivan, atau meminta tolong kepada Eben, Asmo, BobYudo, atau kepada kawan saya Azizah melukiskan wajah Ivan. Namun akhirnya karya Eben datang pertama kali dan saya langsung jatuh cinta melihatnya. Lagi pula Eben dari awal memang sudah menegaskan jika ia akan membantu apa saja yang sekiranya dapat ia Bantu selama ia mampu. Dari desain covernya saja saya tau dia sangat berasungguh-sungguh.
Masalah lainnya yang lalu harus saya pikirkan adalah biaya. Banyak pihak yang lalu menyarankan agar saya minta saja kepada Burgerkill, toh, ini adalah biografi Burgerkill juga. Saya tidak mengangguk, tidak pula menggeleng. Saya sangat tidak setuju jika karya ini mengenai Burgerkill walau saya akui, saya mengambil periodisasi hidup Ivan dari karya-karya Burgerkill. Sekali lagi ini karya personal dan saya tak mau merepotkan Burgerkill, walau dalam kenyataannya, mereka dengan sangat luar biasa mendukung dan membantu saya selama proses penggarapan biografi ini. All hail Burgerbrothers! Maka untuk sponsor saya mencoba mengotak kawan-kawan lama. Saya mendapat dukungan dari Chronic Rock, Scumbag, Commonroom, Eat, 347, www.burgerkillofficial.com, Dis.tribute dan Yayasan Adikaka-nya, Obscene, Godinc., Omuniuum, Migraph, dan Arena Experience. All hail ya!
Maka inilah buku Myself : Scumbag Beyond Life and Death. Saya persembahkan buku ini untuk semua kawan-kawan Ivan dan juga begundal disertai sebuah penggalan kalimat dari Omar Khayyam yang dimuat dalam buku Samarkand sebagai pembuka salah satu bab : “Bangkitlah! Untuk tidur terenatang keabadian di depan kita!” Dan memang, Ivan yang begitu jarang tidur tahu banget kalau hidup adalah untuk tetap bangkit—istilah Johnny SID : ‘berdiri tegak menantang!’ dan terus berkarya, sampai akhir hayat.
Selamat membaca, Semoga karya ini mengispirasi dan semakin menumbuhkan minat baca dan tulis, hingga budaya menulis kita semain maju, tak kalah berdampingan dengan tradisi lisan kita yang luar biasa! Kabarnya ini adalah penulisan pertama tokoh lokal. Whaddahell! Ini adalah persembahan paling pribadi saya buat Ivan : sahabat saya, pejuang yang paling patut mendapatkan sebuah penghormatan dari kita semua! All hail Scumbag!

Kimung adalah penulis buku Myself : Scumbag Beyond Life and Death